(Prolog) The Tied Yellow Ribbon

Sehji

“Once upon a time there was a boy who loved a girl and her laughter was a question he wanted to spend his whole life answering.” ― Nicole Krauss

 

Sehun tak pernah mengerti seberapa dalam kutipan novel The History of Love itu mampu menelannya sampai ia merasakan hari itu. Hari dimana tubuhnya terombang-ambing di lautan lepas dan yang ia ingat hanyalah gadis bernama Lee Jieun.

Continue reading

(Fanfic) Confessions  1/2

ko11

Confession : Kitahara Mizuki

Yuko-sensei…

Hari ini, aku membiarkan Shuuya melihat sisi tergelap dari diriku. Sepetak ruang hitam yang mengendapi separuh jiwaku, takkan pernah kuberitahukan pada siapapun selain separuh jiwaku yang lain. Kau pasti pernah mendengarnya kan? Kegilaan gadis beralias Lunacy, yang gemar mengumpulkan obat-obatan dan meracik ramuan-ramuan dengan dosis acak  untuk meregang nyawa binatang. Seorang belia yang bulan lalu menyarati tajuk kriminal berbagai surat kabar seantero Jepang karena telah membantai seluruh anggota keluarganya tanpa ampun.

Ya, itu aku. Kitahara Mizuki.

Apa kau pernah menyangkanya…sensei?

Aku bertaruh, tidak. Bahkan setelah artikel tentang Lunacy menjadi momok di negeri ini, pemerintah masih berpihak padaku melalui Hukum Kriminal Remaja. Mereka hanya memasukkanku ke sebuah rehabilitasi selama satu minggu, dan dengan begitu saja melepasku lagi. Sekolah tidak perlu tahu. Dan aku merasa begitu bangga karena hari ini aku masih bisa berdiri di sini. Memerintah kelas untuk memberi salam padamu. Mengerjakan tugas-tugas konyol yang kau berikan. Juga mendengar pengakuanmu hari itu, di suatu penghujung musim semi, tentang Manami kecilmu yang telah dibunuh oleh dua siswa di kelas ini. Continue reading

I’m Running Out of Idea!!!

anime-boy-cute-digital-art-Favim.com-909814

Hi guys, I’m back!!

Finally, after a long unplanned hiatus from this blog, I am able to go back again. Anybody miss me? Hello? No? Okay -_-

Unfortunately, I don’t come here with any short stories since I spent my last precious five months to write my GP. Yes, GP!!! That GP required for graduation. It was a very hard time. I had to focus on my research, writing a formal paper which was not fun at all. I miss writing short stories again. I miss creating gloomy atmosphere. The weather is perfect though. Cloudy. Rainy. But the thing is, I’m running out of idea!!

Yeah, that’s the problem. I’ve been addicted to gore and action films lately. I enjoyed watching them, yet I found it less productive than writing. I tried to find any idea from them, but it was useless. Can’t really tell what had happened to my brain. Seems like the cells had been shrinking -_-

Oh, by the way, here is my planning for this year. I want to publish a literary work of mine, be it an anthology of stories or a novel. I have finished writing a novel actually, but I think it is not worth it enough to publish. Therefore, I’m going to write another novel with different theme and leave the previous one. Hahaha. What theme do you guys think will be acceptable in the market? Romance? Friendship? Honestly, I’m sick of cheesy romantic stuffs. I prefer some kinds of action, fantasy, or sci-fi, but I guess it is not quite acceptable in Indonesian market. You can see that most of those book genres displayed in Indonesian bookstore were translated works. Well, it is not that I write things for money. No! I’m not! I’m not a kind of author who craves for fame and money. The only thing  I want is a self-satisfaction. Having a book with your name in a bookstore is amazing right?><

Continue reading

Aside

awesome-beige-black-brown-Favim.com-593279

         She forgot how it was ended. Everything seemed to be so wretched now: her heart, her life, her love. So cold, the rain poured heavily outside.  She took a glimpse through her hazel eyes, trying to find her half soul.

Continue reading

(Flashfic) Fate

Favim.com-amazing-bug-close-cute-heart-insect-101790

        Ada rasa pahit dan panas ketika gadis itu mencoba menggilas kepedihannya, mengalir dalam tenggorokannya, lalu menguap di antara sekat –sekat pernafasannya yang tipis.  Mata coklatnya bergerak selintas, melirik pemuda parlente yang berjarak dua atau tiga puluh centi di sisi kanannya.  Pemuda itu menautkan kancing-kancing kemeja putihnya yang lusuh, lalu beranjak mengenakan sepasang sepatu kulit yang tercecer di penjuru ruangan . Fajar telah merayapi dunia dari ujung timur, menembus masuk jendela ruangan yang tadinya kelam.  Pemuda itu, lagi-lagi, harus berburu waktu dengan kehidupan. Continue reading

(Flashfic) Life

Favim.com-25769

Selalu ada hal ini dalam hidupnya:

Jari-jari yang menggamit lengannya ketika musim semi mulai merangkak, tawa kecil yang mengenyahkan ceruk gelap di hatinya, mata bulan sabit yang membawanya pada kehidupan, dan gadis itu.

Ada masa dimana mereka hanyalah anak-anak ingusan yang mengabaikan geliat panas matahari, berlarian di sekujur lapangan sambil menginjak patah rumput-rumput kering yang menguning. Continue reading

(Fanfic) Fine Mapple Drops

Favim.com-36762

           Apa kalian ingat tentang kisah Hyeju dan Jiho? Ya, aku pernah menceritakannya dalam satu kepingan cerita lain, dan itu adalah ketika mereka dihadapkan pada sebuah situasi yang menggerus kebahagiaan mereka. Kali ini aku akan menceritakannya lagi, kisah Jiho dan Hyeju dari awal, dari pertama kali mereka bertemu hingga mereka jatuh cinta.   Ini bukan kisah seromantis cinta Jack dan Rose di atas kapal Titanic, tetapi juga tidak setragis Romeo dan Juliette yang sama-sama memilih mati demi cinta mereka. Tidak. Ini hanya sebuah kisah cinta biasa yang terjadi pada orang-orang biasa juga—dibumbui sedikit rasa putus asa, kesepian, harapan, dan kebahagiaan—dimulai dari dua anak manusia yang dibesarkan dalam keluarga berbeda. Tunggu, ini juga bukan soal perbedaan status sosial dimana yang satu bergelimang harta dan yang lain miskin sehingga orang tua si kaya tidak menyetujui cinta mereka. Tidak tidak. Tema itu sudah basi. Dua orang dalam kisah ini sama-sama dibesarkan di keluarga berada, hanya saja fase kehidupan menuju remaja selalu membawa kesepian pada individunya. Dan kesepian itulah yang mempertemukan mereka di sebuah danau, saat musim gugur, 12 tahun lalu.

Continue reading

(Fanfic) Lilac and the Last Time

alone-beautiful-checked-checkered-fashion-Favim.com-328546

**I** : Percakapan dengan Karen Kennington, 7 hari setelah kematian Elliot

**II**: Percakapan dengan Judith Warner, 8 hari setelah kematian Elliot

**I**

T: “Kapan kau terakhir kali bertemu dengannya?”.

K: “Seminggu yang lalu. Kami bertemu di bandara sebelum keberangkatannya ke Belgia. Dia memberiku seikat lilac ungu dan silet, lalu menyanyikan sebuah melodi yang sangat kubenci di dekat telingaku. Dia bilang, itu melodi favoritnya”.

T: “Melodi apa itu?”.

K: “A Walk in the Forest milik Yiruma. Kau tahu?”.

T: “Yah, kukira pengetahuanku cukup buruk kalau soal musik. Dan kenapa kau membenci melodi itu ngomong-ngomong?”.

K: “Karena ia pernah meninggalkanku sendirian ketika kami sedang jalan-jalan di hutan”.

T: “Benarkah?”.

K: “Entahlah, kupikir begitu. Tapi mungkin saja kami memang tidak sengaja terpisah. Dia benar-benar ceroboh!”.

T: “Hahaha. Oh ya, siapa tadi namanya?”.

K: “Elliot”.

Continue reading

(Fanfic) Sunset, Winding Road

barley-field-sunset-gold-Favim.com-474249

Suzy terbangun dari tidur lelapnya karena sebuah goncangan. Ia membuka mata dengan perlahan—sangat malas—karena ia baru saja bermimpi tentang masa depan yang berbeda, dan itu belum terjadi sama sekali. Dada gadis itu kembang kempis oleh nafasnya yang tak beraturan—mungkin karena kelelahan, atau justru karena ia sedang berdebar-debar. Terkadang ketika bangun, otaknya akan kesulitan membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya mimpi. Atau terkadang, ia hanya akan merasa tidak percaya bahwa di sisa hidupnya ia takkan melihat Myungsoo lagi. Continue reading

(Sequel of Memory Dust) A Cold Sunshine

419159_244735428941988_162510903831108_555477_1092274590_n

          New Orleans, musim dingin 2013.

Soojung duduk di tepi ranjangnya, merapatkan mantelnya yang tidak terlalu tebal sambil mendesis kedinginan.  Penghangat ruangan di kamarnya sedang rusak, dan ia tidak memilikki pilihan selain menumpuk macam-macam kain tebal untuk menghangatkan tubuhnya kalau tidak mau mati kedinginan. Saat itu tanggal 24 Oktober, ulang tahunnya, dan seseorang mengatakan bahwa Jongin akan kembali ke New Orleans hari itu. Tetapi sekarang sudah pukul 11.30 malam, yang berarti jika dalam 30 menit Jongin tidak datang, maka ulang tahunnya akan berlalu tanpa pemuda itu. Lagi, lagi dan lagi. Continue reading

(Fanfic) One Step Closer

asian-black-amp-white-cloth-cute-Favim.com-633846

“Aku dengar kalian berdua terus chattingan?”.

“Iya benar. Sehun cerita padaku. Benar kan Jieun?”.

“Ouch, gosip baru lagi”.

           Jieun tidak bisa menanggapi apapun selain berpura-pura tertawa malu ketika  ketiga temannya memberondongnya dengan gosip Sehun-Jieun, Jieun-Sehun. Lucu sekali, bagaimana ia tahu  salah seorang dari mereka itu mencoba membodohi yang lain serta menjadikan dirinya sebagai tameng, tetapi ia masih bisa tertawa renyah seperti sekarang. Apa yang ia pikirkan? Ia patah hati. Ia dilukai. Dan ia tertawa. Continue reading