(Fanfiction) To Recall the Death

Fashion-and-glamor-photography_thumb[1]

              Saat kejadian mengerikan itu terjadi, aku sedang ada di sana. Saat itu tahun 1911. London menjadi kota paling maju dan romantis di Eropa, dimana ratusan gedung teater besar atau kecil didirikan untuk mempertontonkan play-play terkenal. Ratusan bangsawan datang setiap harinya, memakai tuxedo dan gaun-gaun terbaik mereka untuk menikmati tragedi Oedipus dan Othello, kadang ikut menangis kadang hanya tertawa. Mereka pikir itu adalah hiburan paling mewah yang bisa kelas sosial mereka dapat, dan aku selalu setuju akan hal itu. Tetapi  London, selain menjadi kota termegah, juga menjadi kota paling menyeramkan karena gosip Jack the Ripper yang senang membunuh wanita yang berkeliaran di malam hari.

             Aku lupa saat itu tanggal berapa dan bulan apa. Aku hanya ingat saat itu malam hari, pukul 09.00 malam, dan teater tempatku bekerja sedang dipenuhi ratusan atau mungkin ribuan penonton yang menikmati Jane Eyre. Aku berjalan ke atas panggung dengan gaun sederhana, dan menikmati peran kecilku sebagai seorang Alice Fairfax si penjaga Thornfield Hall yang lugu. Udara sangat dingin malam itu. Aku berharap ada perapian di atas panggung agar para pemain Jane Eyre tidak kedinginan, atau setidaknya salju jangan membentur bumi dulu sampai semua orang yang ada di sana kembali ke rumahnya dan menghangatkan diri mereka di balik selimut.

              Sayangnya malam itu, orang-orang tidak kembali ke rumah mereka dan menghangatkan diri dengan selimut. Tidak orang-orang itu, tidak aku, tidak juga kami yang berada di atas panggung. Sebuah ledakan besar terjadi di sana, dan dalam beberapa detik api sudah menyambar kemana-mana. Orang-orang berlarian, atap-atap berjatuhan, dan segala yang bisa kudengar malam itu hanyalah jeritan pilu dan tangisan. Darah, luka, kematian, ketakutan, semuanya bercampur aduk dan menciptakan satu definisi tersendiri untuk yang selama ini kusebut sebagai neraka. Panas dan kesedihan, apa kau bisa membayangkannya? Sakit, sendirian, apa kau bisa merasakan?

             Tidak, jangan, itu terlalu mengerikan. Kuharap hanya aku saja yang mengalaminya. Tapi akan lebih baik kalau tidak ada seorang pun yang mengalaminya.

             Rakyat London bilang, pelaku peledakan itu adalah Jack the Ripper. Tapi kubilang, itu adalah tuduhan paling bodoh karena Jack the Ripper tidak meledakkan bangunan, melainkan membunuh gadis-gadis di tempat prostitusi. Ada banyak penjahat di dunia ini. Mereka bersembunyi di antara kalian, hidup bersama kalian setiap hari, lalu melakukan kejahatan di balik punggung kalian. Jadi kenapa hanya menunjuk satu orang? Apakah mereka terlalu bodoh atau mereka malas menyadari kenyataan? Padahal Jack the Ripper sudah berhenti membunuh. Ia berhenti. Biar kukatakan juga, ia tidak lagi ada di daratan Eropa sejak seminggu sebelum kejadian itu.

            Ah, sekarang marah pun tak ada gunanya. Semuanya sudah terlanjur terjadi dan menyalahkan tidak akan mengubah sejarah yang membekas di benak orang-orang selama 102 tahun ini. Tapi walau bagaimana pun, aku masih tetap menyesal. Kurasa, jika seminggu sebelum kejadian itu aku mengikuti kekasihku berlayar ke New Orleans, aku tidak akan berada di sini sekarang. Terbelenggu bersama zat-zat transparan lain yang terluka tapi tidak berdarah. Yang beterbangan tapi tak terlihat. Yang menangis tapi tak terdengar. Kau lihat, kami, ribuan orang ini, masih berada di titik ini selama ini. Di bekas gedung teater yang telah dialih fungsikan sebagai museum, tempat mereka yang masih hidup memajang dan mengenang sisa-sisa kejadian tragis yang membunuh kami.

_______________________________________________________________________________________________________

A/n : Ufff, akhirnya bisa ngepost lagi di sini. Untuk beberapa minggu (atau bulan?) kemarin, wp sedang tidak bersahabat dengan saya, makanya dibuka dashboardnya aja susah. Apa gara2 modem? haha, yah entahlah. Yang penting sekarang saya sudah bisa kembali ke sini dan memposting satu ff yang entah idenya berasal dari mana *tiba2 muncul*-_-

Don’t be a Silent Reader!!!

Leave a Comment Please.

Thank You~❤

12 thoughts on “(Fanfiction) To Recall the Death

  1. Secara keseluruhan sih bagus -Gk kacau- EYD gk berantakan. Tapi lebih bagus lagi klo neesan coba pengolahan katanya -lebih tepat diksinya-
    misalkan neesan mau menggambarkan seseorang yg terluka :

    ‘Dalam bayu yang tak berhenti menaungi waktu.
    Apa yang tersisa saat penantian panjang padanya tak kunjung kembali. Ada luka tak kunjung sembuh saat ia memutuskan untuk tak berpaling lagi.

    Ada yang hadir dan tak akan pergi. Menggoreskan luka dalam yang membekas di setiap detak dan nafasnya.

    Tanpa ia sadari bahwa perlahan ia karam dalam kenangan dan bayang-bayang.
    Lukanya tak tersembuhkan. Menyudut dalam sepi yang mengikis dinding waktu.’

    1. Wow, itu kalimat2 buatan kamu? Kamu bs nulis bagus gt, knpa ga mau bikin cerita juga?><
      to be honest, kalimat2 yg too much dramatic and connotative itu bukan styleku (walaupun aku akui itu style menulis yg bagus bgt). Malah kalo kubilang, feelnya ga begitu dapet, jd aku kurang suka '_'v
      Dewa adalah ketika kata2 yg simple (tp ga pasaran) bisa menggambarkan feeling karakternya dgn tepat. Dan aku masih gagal dan gagal dan jauh dari hal itu, jd maaf ya udh mengirimmu ke dunia perffanku yg amatir ini ;_;
      I'm so glad to receive your comment and critics. Thank u^^

  2. klo FF dg diksi seperti itu #NunjukKomentku gk selalu seperti apa yg neesan fikirkan. Mungkin memang ada beberapa yang gk dapet feelnya #krnMerekaLebihCondongKediksi. Tapi ada beberapa author kok diksinya W O W + dapet banget feelnya

    semua itu butuh proses neesan. Dan butuh koment untuk tau letak kesalahannya gmn agar FFnya bagus. Jadi gk langsung WOW gitu….. Dan aku juga pernah baca FF author kesayanganku yg zaman bahula daaan diksinya yah biasa. Tapi sekarang diksinya udah W O W banget.

    Aku sih bisanya koment hasil karyanya orang tapi klo disuruh bikin asdgfsahdrta #JedotinKepala ancur gitu looh. Klo aku ngetik FF pengen cepet selesai #Always.selalu jadi alurnya juga cepet ==”. Jadi yaaaah males banget bikin FF. Lagi pula aku sukanya baca😀

  3. Haloo kaaak~ Seperti janjiku kemarin, aku balik lagii.. hehee..

    Oke, menurutku ini keren loh, kak. Aku suka banget sama latar Inggris abad2 dulu, daan Jack The Ripper~ Hohoo..😀

    Udah dulu kak, aku mau muter2 blog ini lagi🙂 semangat nulis ya, kak! ^^

  4. ini keren. bener deh. ini orific kan ya? ya ya? (trus kenapa kalo orific? ㅋㅋ)
    ga bermaksud menghakimi siapapun ya, tapi mengenai diksi, saya rasa itu sama sekali ga bisa disama-ratakan. saya suka beberapa penulis di dunia maya ataupun penulis yang karyanya sudah diterbitkan, dan mereka masing-masing punya cara yang berbeda dalam menyampaikan suasana dan rasa melalui kata-kata. diksi sangat erat kaitannya dengan gaya menulis, dan gaya menulis membuat seorang penulis dikenal melalui tulisannya. saya juga punya seorang teman yg diksinya bahkan lebih ‘gila’ daripada salah satu pengkomentar disini (btw, nama pena dia azura juga loh. hehe) dan saya setuju sama EkaXiah, ga semua genre fanfic cocok pake diksi seperti itu. tapi lagi-lagi kalo storyline-nya oke sih ga masalah buat saya diksinya kayak apa. lol.

    overall, saya cuma mau bilang kalo kamu ga perlu ngubah gaya menulis ataupun diksi kamu. karena ini tulisanmu, bukan orang lain =))

    1. iya sih, intinya fleksibel aja kalo soal diksi n gaya bahasa. Tergantung selera dan genre masing-masing :3
      Azura? Hmm, mirip yah. Btw saya jd penasaran sama tulisannya wktu kamu bilang ‘lebih gila’. Bisa kasih tau alamat blog/link fanfic2 dia? Mungkin dgn membaca ff2 yg dewa itu, saya jadi bisa mengimprove tulisan saya ke depannya ‘_’v

      1. ampun ya kebiasaan bgt saya kalo bales komen telat. maaf baru bales, soalnya udah lama ga buka wordpress dan kalopun buka ga dari pc (dan setiap email dr wordpress yg masuk ke yahoo! selalu masuknya ke spam -_-
        in case you’re still curious, here’s azura’s blog; azura-calestis on livejournal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s