(Sequel of Paradise) Parallel Dimensions

      bokeh-christmas-dark-happy-holyday-Favim.com-249559

             Ada dua orang yang tidak tidur malam itu, malam dimana orang-orang di seluruh dunia takkan bangun dari mimpi-mimpi mereka hingga fajar menjelang. Malam dimana bumi dinaungi langit yang sama gelapnya dengan arang, tetapi masih menyisakan  celah untuk sang rembulan. Ada dua hal yang sedang dipikirkan dua orang itu: kenangan dan masa depan.

                Mereka hanyalah remaja biasa, berusia 19 dan terkadang takut untuk menjadi dewasa. Itu wajar karena orang-orang seumuran mereka masih tenggelam dalam euforia masa remaja. Tetapi janji, masa lalu, kehidupan, masa depan, dunia, terkadang terlalu mengerikan untuk mereka. Yang mereka jeritkan setiap detik dalam kehidupan mereka adalah: andai saja waktu bisa berputar mundur. Andai saja semua bisa diperbaiki.

                “Kau belum tidur?”.

                “Aku mendengar suara itu lagi…”, si gadis berbaring di tempat tidurnya. Matanya terpejam, tubuhnya terbaring lurus, dan rambut hitamnya terurai hampir menutupi seluruh permukaan bantal. Handphone yang ia loudspeaker pelan itu mengalunkan suara berdeham seorang pemuda.

                “Apa yang ia katakan?”, tanya pemuda itu sangat pelan, seolah jika suaranya mengeras sedikit saja, kesunyian yang meliputi dunia ini akan luluh lantah. Ia duduk di lantai, bersandar di kaki tempat tidurnya sembari menekuk kedua lutut. Jam menunjukan pukul dua pagi. Ada yang salah dengan dirinya, juga dengan diri gadis yang berada di seberang sana. Tetapi…

                “Ia menangis. Ia memintaku untuk melepasnya. Aneh bukan? Jongin, aku tidak mengerti…”.

                Ketika gadis itu menghentikan ucapannya, keheningan mengisi jarak ratusan kilometer diantara mereka, menembus ruang dan waktu, menghubungkan dua orang yang hatinya sedang diisi perasaan tak terdeskripsikan. Jongin mengusap wajahnya, sementara nafasnya terhenti di kerongkongan selama beberapa waktu.

                “Apa menurutmu aku mengerti, Suzy?”.

                “Tidak, aku tidak menuntutmu untuk mengerti. Hanya saja… Myungsoo…Dia… Apakah dia benar-benar mencintaiku?”.

                “Lalu aku harus menjawab apa kalau kau menanyakan itu padaku? Aku tidak mengenal Myungsoo sebaik itu, kau tahu”.

                Suzy menarik nafas dalam-dalam. “Maaf. Aku… aku cuma ingin berbicara saja. Aku cuma ingin seseorang mendengar pertanyaan yang terus menggangguku ini”. Ia membuka matanya perlahan, dan tampaklah langit-langit kamarnya yang suram dan temaram. Dia ingat sekali, tiga tahun lalu ia pernah pingsan di sekolah karena  kelelahan, dan wajah pertama yang ia lihat ketika membuka mata adalah wajah Myungsoo. Seperti berlian, matanya berkilauan ditempa bias cahaya matahari yang menembus kaca jendela UKS, dan disanalah Suzy bisa menemukan dirinya. Ia terbiasa hidup bersama Myungsoo selama hampir sepuluh tahun. Setiap hari melihat Myungsoo. Setiap hari mendengar suara Myungsoo. Setiap hari ia menemukan jantungnya berdegup kencang karena Myungsoo. Ya, Myungsoo, Myungsoo, dan Myungsoo. Pemuda itu menguasai sebagian besar memorinya, mengisi hampir seluruh masa remajanya, dan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

                “Tak apa. Aku akan mendengarkanmu”, Jongin mencoba menyenangkan hati Suzy.

                “Sampai kapan kau akan terus mendengarkanku seperti ini?”.

                “Sampai kau berhenti”, ucap Jongin.

                “Bagaimana kalau aku tidak pernah berhenti?”.

                “Aku akan terus mendengarkanmu”.

                “Jongin…”.

                “Hm?”.

                “Hari ini tepat setahun sejak kematian Myungsoo, dan tiba-tiba aku berpikir tentang dimensi paralel”.

                “Dimensi paralel?”.

                “Ya. Apa kau percaya soal dimensi paralel?”.

                “Apa itu dimensi paralel?”.

                Sebelah sudut bibir Suzy terangkat, dan ia tersenyum hampir menyeringai tipis. Ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju jendela kamarnya yang berdebu. Digesernya kaca itu hingga angin malam menyeruak masuk dan menerpa tubuh kurusnya. Rambut panjangnya t berkibar di belakang punggung, sementara kedua bola mata onyxnya berkilauan menatap lampu-lampu di gedung perkotaan. Mirip seperti mata Myungsoo dulu, tetapi Suzy tak pernah menyadari hal itu.

                “Jongin, coba bukalah jendela kamarmu, lalu mendongaklah ke atas. Katakan padaku apa yang kau lihat”.

                Seperti tersihir, Jongin begitu saja bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela, lalu menggeser sebelah kacanya dengan satu tangan. Ia mendongak ke atas. Yang ia lihat saat itu: suram dan kesepian. Yang ia katakan pada Suzy: langit hitam dan rembulan.

                “Aku melihat gumpalan langit hitam dan bulan. Kenapa dengan itu?”.

                “Aku juga melihat hal yang sama dari jendela kamarku. Itulah yang dinamakan dimensi paralel, Kim Jongin bodoh. Sejauh apapun kita terpisah, selalu ada sesuatu yang menghubungkan kita. Jika kita mendongak ke atas, kau dan aku dihubungkan oleh langit dan bulan. Jika melihat ke bawah, kita dihubungkan oleh daratan dan lautan. Kurasa, aku dan Myungsoo pun seperti itu. Kami tidak lagi hidup di dunia yang sama, hanya saja ada banyak hal yang menghubungkan dimensi kami. Melihat ke belakang, itu adalah masa lalu. Melihat ke depan, itu adalah janji dan harapan yang pernah kami tanam”.

                Jongin merasakan hawa dingin mulai merayapi tubuhnya, lalu merambat masuk ke dalam hatinya dan itu cukup menyakitkan. Tetapi rasa sakit seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari, jadi ia bisa dengan mudahnya memukul mundur perasaan itu.

                “Aku sungguh-sungguh turut bersedih atas kematiannya, Suzy. Tapi kuharap kau bisa segera merelakannya, karena sekarang ia hanya memori yang cepat atau lambat akan terhapus”.

                “Ya, aku tahu. Dia…”.

                Tiba-tiba Suzy menghentikan ucapannya. Hening. Selama beberapa saat tak ada suara setitikpun di antara mereka. Keheningan yang begitu menulikan.

               “Suzy? Kau tidak apa-apa?”, Jongin tiba-tiba merasa khawatir karena ia mendengar isakan kecil di seberang. “Suzy?”.

                “Jongin! Aku mendengar suaranya lagi! Aku mendengarnya! Ia berbisik di telingaku, Jongin! Myungsoo ada di dekatku!”.

                Jongin mencengkeram kerah bajunya dengan sangat erat hingga kuku-kukunya hampir tembus. Nafasnya tiba-tiba terengah seperti penderita asma, dan kemarahan memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya.

                “Hentikan, Suzy! Hentikan! Myungsoo sudah tidak ada! Ia hanya ilusi! Suara-suara itu hanya imajinasimu sendiri! Ia sudah tidak lagi di dunia ini!! Suzyyy!!!”.

                “Tapi Jongin, aku sungguh-sungguh mendengarnya. Ia memintaku melepaskannya. Jongin…”, suara gadis itu ditelan isakan yang tiba-tiba pecah. Dan suara bentakan dari Kim Jongin di seberang membuat tangisnya semakin parah.

                “Lepaskan saja kalau begitu! Relakan kepergiannya! Buang jauh-jauh ia dari hidupmu!!”.

                “Tidak… Aku tidak bisa…”.

                “Suzy!!”.

                “Jongin…Dia…Myungsoo…”.

                Jongin menundukkan kepalanya, melihat ke bawah dari ketinggian 15 lantai dengan ponsel masih menempel di telinganya. Matanya terpejam erat. Kali ini pertahanan mentalnya gagal untuk mencegah air matanya mengalir. Di dalam sana, di dalam rongga dadanya, ia mendengar suara hatinya yang retak.

 “ Jongin, apa kau tahu apa yang bisa membuatku terus hidup setelah kematiannya?”, suara tenang Suzy perlahan mengalir masuk ke pendengarannya, menyusup ke sela-sela otaknya hingga yang ia bisa rasakan saat itu hanyalah kerinduan.  Ya, ia merindukan Suzy. Suzy yang dulu, yang ceria dan tak mudah hanyut dalam halusinasi. Suzy yang suka memakai pita merah di rambutnya, lalu menepuk keras bahu anak laki-laki yang selalu memendam perasaan untuknya itu. Anak laki-laki itu, Kim Jongin.

                “Jongin, kau harus tahu. Aku terus hidup karena aku selalu mendengar suara Myungsoo yang berbicara padaku. Aku terus hidup karena aku tahu ia masih di sini, terus di sisiku, dan aku ingin terus mendengar suaranya seperti ini sampai aku mati”.

_______________________________________________________________________________________________________

Author’s note: Hello guys!! Saya comeback setelah (unofficially) hiatus dari dunia perblogan dikarenakan saya ga punya mood buat nulis . Ada yang nungguin kah? Ga ada ya? Ya udah deh T^T

FF ‘Parallel Dimensions‘ merupakan sequel dari FF ‘Paradise‘ saya yang udah terbit beberapa bulan lalu. Kalo ‘Paradise‘ itu diambil dari sudut pandang si Myungsoo yang udah jadi arwah (hiks hiks), ‘Parallel Dimensions’ ini lebih banyak diambil dari povnya Suzy dan sedikit Kim Jongin si pihak ketiga. Ada yang ngerti kira-kira cerita keseluruhannya sebenernya gimana?

Kalau belum, silahkan menebak-nebak sampai saya merelease sequel lain dari FF ini (kalau sempet, kalau jadi, kalau mood)🙂

Don’t be a Silent Reader!!!

Leave a Comment Please.

Thank You~❤

12 thoughts on “(Sequel of Paradise) Parallel Dimensions

  1. apa suzy saudara myungsoo, tp kai gk akan bunuh dirikan denger pengakuan suzy#kasian bgt tuh!!
    keren bgt thor.

  2. author~ maaf aku baru komen… ㅠ_ㅠ kemarin waktu mau komen kuota ku abis.. hehehe._.v ceritanya bikin gereget~ aku kesel banget sama suzy thor demiapapun!! udah ada jongin, kan? segitunya kah dia sama myungsoo? suzy batu banget sih iiih-_- hehehe, maap thor, ngomen nya udah telat, komennya ngomel2 pula.. tapi aku beneran gereget thor sama suzy. sumfehh

    1. Hueee, makasih banget kamu udah nyempetin balik lagi ke sini buat komen. Aku terharu sumpah *sobs hard*. Makasyuuu :’)
      haha, segitu nggeregetinnya kah suzy?? tp dia juga punya alasan lo kenapa ga bisa beralih dari myungsoo ke jongin. Mau tau alasannya apa? Tunggu sequelnya😄 #ngiklan #teaser

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s