(Sequel of Parallel Dimensions) Memory Dust

asian-couple-cute-love-photography-Favim.com-191865

Suzy menghitung dengan jarinya, sudah berapa musim panas yang telah ia lalui bersama Myungsoo. Semua itu berawal ketika mereka masih sangat belia, ia delapan, dan Myungsoo sembilan. Teman-teman sekelas mereka suka membodohi mereka dengan cerita bahwa jika kau memohon pada bintang jatuh, keinginanmu pasti akan terkabul.  Ia dan Myungsoo tidak perlu menunggu dua detik untuk mempercayai hal itu. Saat itu, ia hanyalah gadis kecil yang menyimpan banyak keinginan dalam otaknya : ia ingin menjadi dewasa, ia ingin pergi keliling dunia, dan ia ingin menikah dengan Myungsoo.              Jadi ia sering duduk di atas balkon rumahnya di malam hari—kadang bersama Myungsoo, kadang sendiri. Mereka menunggu bintang jatuh, tetapi sampai mereka bertambah tua tiga tahun, usaha mereka tak pernah mencapai hasil. Bintang yang jatuh itu kadang terlewatkan diantara obrolan dan tawa mereka.

Jongin adalah pihak ketiga dalam kisah ini. Ia hanya pemeran pembantu yang muncul mulai pertengahan cerita, digambarkan sebagai seorang pemuda tampan, tinggi, dan betubuh tegap yang datang dari New Orleans. Ia pendiam. Ia tidak terlalu pintar bergaul, jadi ia takkan mendekati orang sebelum ia didekati lebih dulu. Saat itu mereka bertiga masih kelas 1 SMA,  dan entah kebetulan atau memang takdir, tempat duduk mereka membentuk sebuah segitiga di sudut belakang kelas. Segitiga, sama seperti kisah cinta mereka.

“Jongin, bagaimana kabarmu di sana? Maaf baru bisa menghubungimu. Ponselku disita Mom sejak dua hari lalu”, Jongin mendengar suara Soojung yang berdiri ribuan kilometer jauhnya dari tempat ia berdiri sekarang. Ia hanya bisa tersenyum dan menyandarkan kepalanya di batang pohon besar yang berdiri di halaman sekolah barunya.

“Tidak masalah. Kau sudah makan?”.

“Sudah. Mom memasak spagetti kesukaanku seperti biasa, haha. Bagaimana hari-harimu di Korea? Apa menyenangkan?”.

“Biasa saja. Tidak ada yang istimewa di sini. Oh ya, ngomong-ngomong…”, belum saja ia sempat meneruskan kata-katanya, seorang gadis tiba-tiba saja muncul dan meneriakinya seperti maling.

“Jongin! Kau bawa handphone? Peraturan sekolah ini melarang siswanya membawa handphone!!”, gadis berambut panjang itu berdiri dengan angkuh dan menudingnya dengan ujung jari. Jongin mendongak. Gadis itu terlihat seperti raksasa yang mau memakannya.

“Eeeh…itu…eee…”, Jongin menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia bukan orang yang pintar meracik kebohongan, jadi otak sederhananya tak mampu secepat itu merangkai suatu alasan untuk membela diri.

“Aku akan melaporkanmu ke Yunho sonsaengnim!”,  Suzy memekik. Baru saja ia akan menggerakkan kakinya ketika tiba-tiba Jongin dengan sigap menarik pergelangan tangannya. Suzy menoleh ke belakang, ia mendapati bola mata Jongin menatapnya penuh permohonan.

“Tidak! Jangan! Aku bersumpah akan mentraktirmu es krim sampai umurmu 100 tahun kalau kau tidak melaporkannya!”.

Konyol, bagaimana ucapan gila Jongin saat itu tanpa sengaja menjadi tabung oksigen yang membantunya menyelami lautan hati Suzy. Memberinya nafas selama bertahun-tahun—selama ia, dengan seragamnya, menemani Suzy makan es krim setiap pulang sekolah. Ia ingat beberapa temannya seperti Kyungsoo dan Baekhyun pernah bertanya: “Kenapa kau selalu makan es krim dengan Suzy tiap pulang sekolah? “. Dan ia hanya menjawab: “Itu hanya rutinitas”.

Itu hanya rutinitas…

Dan seberapa lamakah rutinitas itu akan bertahan?

Juga, seberapa menyenangkankah rutinitas itu sebenarnya bagi Jongin?

Jongin sendiri tidak mampu menentukan jawabannya. Malam itu ia berbaring di kasurnya dalam lelah. Matanya menguasai langit-langit kamar, sementara sebuah handphone yang memutar lagu Part of the List milik Ne-Yo tergeletak di atas telapak tangannya. Itu lagu favoritnya. Bahkan ketika lagu itu mengisi seluruh pendengarannya, telinganya masih bisa mendengar satu nama yang terbisik halus dalam keremangan. Suzy…Suzy…

Oh, sejak kapan nama itu terus berdengung di kepalanya seperti ini? Sejak kapan??

Jongin lupa. Ia sudah tenggelam dalam lautan yang ia selami, dan kini ia tidak tahu bagaimana caranya berenang ke atas. Matanya terpejam, ia menikmati segala yang bisa ia nikmati sekarang. Udara, detak jantung, kehidupan, dan…cinta…

Tiba-tiba saja ringtone handphonenya berbunyi kencang hingga ia spontan bangun dengan ribuan kupu-kupu memenuhi perutnya. Jantungnya berdegup cepat. Buru-buru ia membaca nama yang tertera di layar handphone, dan kekecewaan langsung melandanya karena ia tidak mendapati nama Suzy disana, melainkan Soojung,

…Oh tunggu! Kecewa? Bagaimana bisa ia kecewa menerima sebuah telepon dari Soojung?

“Ya, halo Soojung-ah?”.

Gadis di sana terdiam.

“Soojung, kau baik-baik saja?”.

“Mom dan Dad akan bercerai…”, suara Soojung terdengar serak dan … entahlah. Ogah-ogahan? Penuh kesedihan? Jongin tidak mengerti. Kedua alisnya terangkat hingga menimbulkan kerut-kerut halus di dahinya. “Kenapa? Apa Mom dan Dadmu bertengkar hebat?”.

Jongin mendengar jeda beberapa saat sebelum ia mendengar suara Soojung lagi. “Mom punya pacar baru. Namanya Chekov. Dad marah besar karena hal itu…”, suara Soojung terdengar agak gemetar di akhir kalimatnya, membuat Jongin semakin khawatir akan keadaan mantan tetangganya di New Orleans itu.

“Bisakah kau menenangkan mereka?”.

Soojung menghela nafas. “Aku tidak tahu. Mereka membuatku muak, Jongin. Mereka kekanak-kanakan!”.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu pada orang tuamu! Kau adalah anak mereka, jadi hanya kau yang bisa menyelamatkan pernikahan mereka”, Jongin, si  pemuda 15 tahun itu, mencoba berkata-kata seperti orang dewasa

“Aku tidak tahu, Jongin. Entahlah. Aku mau tidur”.

Sambungan telepon terputus, dan Jongin tidak pernah tahu bahwa ia hanya akan mendengar suara Soojung lagi bertahun-tahun kemudian. Tetapi ia tidak terlalu peduli akan hal itu. Kehidupannya sekarang hanya diisi oleh Suzy, Suzy, dan Suzy—Walaupun yang selalu ia dengar dari mulut gadis itu hanyalah Myungsoo, Myungsoo, dan Myungsoo.

Ya, Myungsoo. Namanya Kim Myungsoo. Pemuda itu duduk di depannya, satu tim basket dengannya, dan juga…saingannya. Jongin muak mendengar nama Myungsoo dari mulut Suzy. Jika hati Suzy adalah lautan, maka Myungsoo adalah airnya. Ia memenuhi hati Suzy dalam segenap sudutnya. Setiap kali mereka pergi makan es krim, Suzy tidak akan lupa menyebut nama pemuda itu setidaknya dua kali.

Tentu saja—di kelas mereka—Jongin tidak memusuhi Myungsoo. Kenyataannya, mereka bertiga malah menjadi teman akrab yang kelihatan harmonis dari luar. Suatu kali, ketika mereka baru saja selesai main basket, ia pernah bertanya pada Myungsoo:

“Apa pendapatmu soal Suzy?”.

“Dia orang yang sangat menyenangkan”, jawab Myungsoo santai.

“Itu saja?”.

“Ah, dia juga sangat baik”.

“Kau tidak punya perasaan padanya?”.

Myungsoo menoleh dengan sebelah alis terangkat. “Kau menyukai Suzy?”.

Jongin menggaruk-garuk kepalanya bingung. “Eee…itu…aku…aku…”, dan ia pun gagal menyembunyikan perasaannya.

“Haha, kau menyukainya? Tidak apa-apa, seleramu bagus. Kalau kau mau, aku bisa membantumu mendekatinya”, Myungsoo tersenyum lebar.

“Benarkah? Tapi…kukira kau…menyukainya”.

“Aku? Oh, tidak. Kau salah paham. Aku menyukainya sebagai sahabat, bukan sebagai yang lain. Lagipula, mmm…aku sudah punya seseorang”, Myungsoo nyengir hingga sebelah matanya menjadi benar-benar sipit.

“Kau? Siapa?”.

“Seseorang, kau tidak mengenalnya karena dia tidak belajar di sini”.

“Oh…”, Jongin mengangguk percaya.

“Nanti malam apa kau mau datang ke rumah Suzy? Kami akan mencari bintang jatuh lagi. Mungkin saja kau tertarik?”, Myungsoo mendribble bolanya ke lantai hingga meninggalkan bunyi gedebug-gedebug yang agak keras. Kali ini giliran Jongin yang nyengir. “Aku sebenarnya agak heran kenapa kalian berdua masih percaya pada mitos bintang jatuh sementara umur kalian sudah sedewasa ini”.

Myungsoo tertawa kecil dan berhenti mendribble bolanya. “Haha, sindiran yang hebat bro! Tapi sungguh, aku sebenarnya sudah tidak percaya lagi soal hal itu. Hanya saja Suzy masih percaya, dan dia masih penasaran karena sejak kecil, kami belum pernah menemukan bintang jatuh. Kadang kupikir, mencari bintang jatuh bersamanya itu adalah rutinitas. Sesuatu yang terbiasa kulakukan sejak umurku masih sembilan. Dan kurasa sekarang aku melakukannya bukan untuk mencari bintang jatuh, tetapi untuk mempertahankan momen-momen bersama Suzy”.

“Kau menyukainya!”, Jongin langsung menuduh sembarangan hingga Myungsoo sedikit tersentak dan buru-buru menjelaskan lebih lanjut.

“Hei ayolah bro, apa kau tidak pernah punya sahabat karib? Apa kau mau begitu saja meninggalkan kebiasaan yang kalian lakukan sejak kecil dan berhenti menemuinya?”.

Jongin termenung. Sahabatnya satu-satunya di New Orleans adalah Soojung, tetapi mereka tidak punya kebiasaan seperti yang dilakukan Myungsoo dan Suzy. Lagipula, mereka sudah berpisah negara sekarang, jadi tidak ada alasan untuk terus melekat satu sama lain seperti Myungsoo dan Suzy.

“Entahlah. Tapi aku akan datang ke rumah Suzy malam ini”, dan Jongin pun pergi.

***

              Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ada orang lain yang menemani Suzy dan Myungsoo mencari bintang jatuh. Ia adalah Kim Jongin, yang datang agak terlambat sambil membawa sekantung biskuit chocochips untuk dimakan bertiga. Saat itu cuaca benar-benar cerah. Bintang-bintang bertaburan dari ujung langit satu ke ujung yang lain. Angin tidak bertiup terlalu kencang, sehingga suara lagu Turn Up the Music dari tetangga sebelah terdengar jelas. Agak merusak susana sebenarnya, tapi siapa yang peduli? Ketika canda tawa mereka sudah mulai mengudara, maka tidak ada satu hal pun yang bisa masa remaja mereka.

“Myungsoo, apa kau percaya pada reinkarnasi?”, tanya Suzy tiba-tiba, membuat Myungsoo dan Jongin hampir tersedak oleh potongan biskuit di mulut mereka.

“Apa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”.

“Karena aku baru saja mendengar mitos bahwa seseorang akan bereinkarnasi menjadi individu yang lain setelah mereka mati. Apa menurutmu itu benar?”.

Myungsoo berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Suzy. Matanya memutar ke atas, mengamati pergerakan lambat galaksi yang tergelar di atas kepalanya. “Kurasa…tidak”.

“Kenapa?”.

“Karena bagaimana kita bisa tahu? Orang mati kan tidak bisa menceritakan pengalamannya, sementara orang hidup tidak pernah ingat kehidupan dia sebelumnya”, ucap Myungsoo.

“Oh, benar juga. Kalau kau Jongin?”.

“Aku juga tidak”.

“Kenapa?”.

“Karena aku tidak mau berpikir bahwa setelah mati nanti, aku akan menjadi orang lain, atau bahkan makhluk lain. Aku tetap ingin menjadi Kim Jongin. Kalau aku mati, maka selesailah Kim Jongin. Tidak ada arwah Jongin yang berubah menjadi arwah lain”, jawaban Jongin itu pun sukses membuat Myungsoo dan Suzy terkekeh kecil. Tetapi tebak siapa diantara mereka bertiga yang harus mati duluan?

Ya, kau tahu jawabannya. Itu adalah Kim Myungsoo. Dua tahun setelah percakapan mereka malam itu, Suzy dan Jongin harus mendapati Myungsoo terbaring kaku di peti matinya, dengan kuku-kuku yang membiru dan wajah putih pucat. Polisi bilang, Kim Myungsoo (18) meninggal karena racun sianida…

___________________________________________________________________________________________________

Don’t be a Silent Reader!!!

LEAVE A COMMENT PLEASE.

THANK YOU~❤

21 thoughts on “(Sequel of Parallel Dimensions) Memory Dust

  1. aaah keren banget ini.. jadi ini untuk memeperjelas hubungan mereka bertiga ya? aku sebenernya masih agak kesel sama suzy thor… hehehe._.v abis ini masih ada lanjutannya kah?

    1. hihi, iya ini buat memperjelas bentuk hubungan mereka bertiga. Masih ada kelanjutannya satu lagi buat memperjelas nasibnya si Jongin setelah patah hati.wkwkwkwk😄

  2. THOOOOORRRR HUHUUUU aku kira bakal ended up being myungzy ternyata friendship ya hehehe epilog pleaseeeeeeee? Huhuuuu myungsoo cakep gitu kenapa harus matiiiii hiks epilog

    1. huhu, iya. Authornya jahat kan ya? Ganteng2 kok dimatiin gt aja –v
      Epilog? Hmm, sepertinya saya bakal bikin another sequel dr cerita ini, tp bukan epilog. Maafkan keabsurdan saya ya><
      Gomawo~

  3. Aku suka jalan ceritanya, semacam cinta segi3 begitu ya, yg pling penting castnya Jongin, meskipun cman jdi orangke3 T^T
    *Saya suka poster fanficnya

    1. loh? kan myungsoonya udah mati. Ini sequel of sequel say, jd coba baca ceritanya dari awal dulu.Mulai dari Paradise–>Parallel Diemnsions–>Memory Dust. Nanti bakal ada 1 sequel lagi sbg endingnya. Emang susunan ceritanya kayak puzzle sih. Anyway, thanks udah comment🙂

  4. kyaaaaa….. kasian abis jadi jongin….. Itu jadi myungsoo bunuh diri? ckckckck
    thor…. plis, myungsoo aja yang dimatiin (?). jongin nya ga usah… masa ganteng-ganteng mati semua ini??
    Ini jadi ceritanya myungsoo nge friend zone suzy sampe 18 tahun? ckckck gawat ini cowo….

    1. Mmm, untuk masalah myungsoo bunuh diri atau dibunuh, saya serahkan sama pembaca aja ya. Tapi yang pasti dia bukan nggak sengaja nelen sianida.wkwkwkwk (ya iyalah, mana ada sianida bertebaran dimana-mana -_-)
      Iya2, tenang, jongin gak mati kok. Kalo mati semua kan ga asik juga😄
      Eeeh, tp myungsoo ini baik lo. Dia kan sayang ma suzy, tp ga cinta (mungkin–kalo saya sempet bikin sequel dr POV Myungsoo, mgkin saya akan membelokkan ceritanya.hahaha). Tp kesannya Myungsoo malah PHP gt ya ,_,v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s