(Fanfic) One Step Closer

asian-black-amp-white-cloth-cute-Favim.com-633846

“Aku dengar kalian berdua terus chattingan?”.

“Iya benar. Sehun cerita padaku. Benar kan Jieun?”.

“Ouch, gosip baru lagi”.

           Jieun tidak bisa menanggapi apapun selain berpura-pura tertawa malu ketika  ketiga temannya memberondongnya dengan gosip Sehun-Jieun, Jieun-Sehun. Lucu sekali, bagaimana ia tahu  salah seorang dari mereka itu mencoba membodohi yang lain serta menjadikan dirinya sebagai tameng, tetapi ia masih bisa tertawa renyah seperti sekarang. Apa yang ia pikirkan? Ia patah hati. Ia dilukai. Dan ia tertawa.

           “Tapi aku tidak ada apa-apa dengannya. Kalian jangan berlebihan!”, Jieun mengepalkan tangannya dan pura-pura geram. Tetapi sekali lagi, semua itu hanya pura-pura.

          “Bohong. Bohong. Kemarin dia cerita padaku kalau dia sering chatting denganmu, dan kalian sering chatting sampai larut malam. Benar kan?”, todong Ahra sambil mencondongkan badannya. Bodohnya, tidak ada salah seorangpun dari kedua temannya yang sadar bahwa itu artinya Ahra juga berkomunikasi dengan Sehun. Bahwa mereka dekat. Dan bahwa mereka itu sebenarnya sudah menjalin hubungan diam-diam entah sejak kapan.

             “Mmm…itu…ah, sudahlah kalian semua. Aku haus. Aku mau beli jus dulu”.

            Saat itu musim panas. Kantin sekolah ramai dipenuhi murid-murid yang separuhnya malas karena kepanasan, dan separuhnya lagi bersemangat menjelang liburan. Jieun, gadis berumur 17 tahun itu, tidak termasuk diantara keduanya. Ia adalah golongan orang yang jarang terlihat terlalu bersemangat atau terlalu sedih. Apapun yang terjadi padanya, pada hatinya, pada hidupnya, ia adalah tipe yang akan memendamnya sendirian. Jieun pikir itu jauh lebih baik daripada harus berbagi luka dengan orang lain, lalu menerima belas kasihan, dan akhirnya ia terlihat menyedihkan di mata orang-orang. Ia tujuh belas, dan ia tahu bagaimana menghadapi perasaan ini.

          Patah hati.

          Ini bukan pertama kalinya ia mengalami patah hati, dan mungkin bukan yang terakhir kalinya juga. Ia tahu bagaimana mengatasi perasaannya sendiri. Sehun… Nama itu membuat ulu hatinya nyeri, dan kadang-kadang hampa. Ia mengecek account kakaotalknya, dan tak ada sapaan dari pemuda itu. Tak ada ucapan ‘Hai’, ‘Sedang apa?’, ‘Bagaimana harimu? Apakah menyenangkan’ diikuti dengan topik-topik lucu yang selalu sukses membuatnya tertawa dengan layar handphone. Akal dangkalnya berpikir ia terlalu bodoh. Sehun hanya mengisi hari-harinya selama tiga minggu lewat dunia maya, dan kini ia menggantungkan seluruh kebahagiaan dunia nyatanya pada pemuda itu. Dan seminggu terakhir ini, yang selalu ia lakukan hanya membaca ulang pesan-pesannya dengan Sehun.

11 Maret

<Sehun> Halooo

<Jieun> Hai

<Sehun> Kau ingat aku?

<Jieun> Tentu saja, terima kasih sudah menemani kami selama di Belanda kemarin.

<Sehun> Tidak apa-apa, bukan masalah. Sayangnya kita tidak terlalu banyak ngobrol kemarin.

<Jieun> Haha, mungkin karena aku terlalu pendiam?

<Sehun> Kau pendiam? Wajahmu tidak kelihatan kalau kau pendiam :p

<Jieun> Hahaa, dasar menyebalkan!

       Itu adalah pertama kalinya mereka saling mengkontak setelah Jieun, Ahra, Baekhyun, dan lima orang yang lain pulang dari summer school di Belanda. Sehun adalah ketua Persatuan Pelajar Korea di Belanda, dan ia lah yang menyambut rombongan dari sekolah Jieun ketika mereka tiba. Jieun dan Sehun tidak berinteraksi banyak saat itu karena siswa-siswi yang mengikuti summer school sibuk dengan berbagai kegiatan, sementara Sehun tetap mengikuti program reguler sekolahnya seperti biasa. Seingat Jieun, mereka hanya bertemu tujuh kali selama dua minggu itu: empat di kantin, satu di hall, dan dua di airport. Dan karena pada dasarnya Jieun pendiam, ia tidak banyak berbicara dengan Sehun. Ia bahkan tidak berharap Sehun mengingat—apalagi mengontaknya—setelah ia kembali ke Korea nanti. Tetapi rupanya ia salah.

14 Maret

<sehun> Selamat ulang tahuuuuun, kecil.

<jieun> Kecil? Aku besar, bukan kecil.

<jieun> oh, anyway, thanks. Tapi ulang tahunku baru dimulai 30 menit lagi :p

<Sehun> Haha, berarti aku orang pertama yang mengucapimu ulang tahun kan?

<jieun> Ung…iya -_-

        Konyol, bagaimana saat itu Jieun langsung tertawa malu-malu sambil memeluk handphonenya, berpikir bahwa Sehun mungkin menyukainya, dan itu berarti cintanya akan bersambut. Ya, bersambut, untuk pertama kali dalam hidupnya.

       Sejak saat itu, Jieun banyak menghabiskan waktunya berbicara dengan Sehun lewat kakaotalk. Ia tertawa. Ia berbahagia layaknya remaja-remaja seumurannya yang sedang jatuh cinta. Ia selalu berpikir bahwa yang dihubungi Sehun sepulang dari Belanda itu cuma dia—cuma dia—sampai suatu hari, ia melihat rentetan pesan yang masuk di handphone Ahra.

          Kejadiannya simpel. Ahra, si gadis berambut kecoklatan dan bermata cerah itu meninggalkan handphonenya di kelas. Saat itu hujan. Jieun tetap tinggal di kelas sendirian karena ia lupa membawa payung, lalu ia menemukan benda kecil itu bergetar di kolong bangku Ahra. Diambilnya handphone berwarna white frost itu, lalu membaca nama yang tertulis besar-besar di layarnya. Oh Sehun.

<Sehun> Sayang, apa kau sudah pulang sekolah?

         Nafas Jieun tercekat. Tiba-tiba ia mendengar suara hatinya sendiri yang sedang patah, terinjak-injak hingga hancur. Matanya panas, tetapi ia tidak punya cukup keberanian untuk menangis—karena menangis berarti membiarkan penyesalan menguasai dirinya. Jieun, dengan seluruh rasa penasarannya, justru membaca semua percakapan Ahra dan Sehun. Tertanggal 11 Maret, hari yang sama ketika Sehun mulai berbicara dengannya.

11 Maret

<Sehun> Halo

<Ahra> Hai

<Sehun> Bagaimana kabarmu?

<Ahra> Kurang baik. Aku flu berat. Udara di Belanda kemarin dingin sekali.

<Sehun> Haha, kalau begitu makan yang banyak dan minum obat agar cepat sembuh.

14 Maret

<Sehun> Heiiiiiiiiiiiii

<Ahra> Apa apa?

<Sehun> Apa ya? Aku cuma mau menyapamu🙂

<Ahra> Dasar aneh. Aku tidak bisa tidur

<Sehun> Kenapa?

<Ahra> Karena belum ngantuk.haha

<Sehun> Oh, oke. Lucu. Mau kunyanyikan lullaby?

<Ahra> Boleeeehh

….

23 Maret

<Sehun> Aku melihat foto-fotomu di Belanda. Kau cantik sekali.

<Ahra> Flirting? Terima kasih

<Sehun> Hahaha, sayang sekali…

<Ahra> Sayang? Apa? Siapa?

<Sehun> Sayang sekali kita jarang bertemu

<Ahra> Kalau begitu kembalilah ke Korea secepatnya.

<Sehun> Tentu. Minggu depan aku pulang. Ayo kita bertemu di sana.

….

15 April

<Sehun> Sayang, aku merindukanmu.

<Ahra> Ya, aku juga. Aku memajang foto-foto kita di kamarku. Aku ingin membuat sebuah scrapbook untukmu. Cepat kembali ke Korea lagi

<Sehun> Astaga, padahal ini aku baru saja tiba di Belanda, kau sudah menyuruhku kembali lagi?

<Ahra> Apa? Kau tidak mau?

<Sehun> Haha, tentu saja mau. Sudah, jangan ngambek.

<Ahra> Idiot🙂

….

Jieun sungguh-sungguh tidak menangis saat itu. Yang ia lakukan setelah membaca rentetan pesan terakhir itu hanyalah berkata “Oh”, lalu meletakkan kembali handphone Ahra di laci bangku, dan pergi.

**************

Saya tidak tahu FF macam apa ini. Saya membuatnya di tengah-tengah belajar buat ujian jadi maaf kalo ceritanya ngambang ,_,v

5 thoughts on “(Fanfic) One Step Closer

  1. entah saya yg emang lagi agak sendu, atau emang cerita ini menyesakkan ya? haha.
    plotnya emang agak ngambang ya, jadi ga tau juga tujuannya sehun perhatian ke jieun itu apa. tapi sepertinya di cerita ini, sehun emang playboy gitu ya?

    1. ga menyesakkan sama sekali sih sebenernya, haha. Dan saya ga terlalu peduli sama bobot ceritanya karena ff ini adalah ff curhat saya, alias…ehem, terinspirasi dari pengalaman pribadi >//////<

  2. jadi sehun ini semacam cowo php gitu ya eon? Sehun tukang php wooo php~ kayak kecakepan aja sih mainin perasaan cewek /padahal emang cakep/ trus maksudnya apa ngechat jieun padahal kamu jadiannya sama ahra? hah? mentang mengtang ganteng seenaknya aja sama cewek. huh~ ohiya eon, jiho-hyeju ada lanjutannya lagi gaaak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s