(Sequel of Memory Dust) A Cold Sunshine

419159_244735428941988_162510903831108_555477_1092274590_n

          New Orleans, musim dingin 2013.

Soojung duduk di tepi ranjangnya, merapatkan mantelnya yang tidak terlalu tebal sambil mendesis kedinginan.  Penghangat ruangan di kamarnya sedang rusak, dan ia tidak memilikki pilihan selain menumpuk macam-macam kain tebal untuk menghangatkan tubuhnya kalau tidak mau mati kedinginan. Saat itu tanggal 24 Oktober, ulang tahunnya, dan seseorang mengatakan bahwa Jongin akan kembali ke New Orleans hari itu. Tetapi sekarang sudah pukul 11.30 malam, yang berarti jika dalam 30 menit Jongin tidak datang, maka ulang tahunnya akan berlalu tanpa pemuda itu. Lagi, lagi dan lagi.

Rumah itu begitu sepi. Hanya ada ia dan kakaknya, Sica, yang tinggal di sana. Mengerikan, bagaimana rumah yang dulunya ia anggap surga tiba-tiba berubah menjadi sepetak bangunan tanpa kebahagiaan di dalamnya. Seolah-olah semua yang pernah ada di sana lenyap dimakan kesepian, dan kini yang tertinggal di sana hanya sepasang saudara perempuan yang  saling menghidupi satu sama lain.

“Krys, aku pergi dulu. Kau jaga rumah baik-baik, oke?”, Sica, seperti biasa, menyelonong masuk ke kamar adiknya tanpa permisi terlebih dahulu. Soojung hanya mengangguk tanpa menoleh, tidak bertanya kemana kakaknya akan pergi karena ia sudah tahu jawabannya. Lagipula ia terlalu jijik untuk mendengar jawaban itu dari mulut kakaknya sendiri. Jessica Jung, kakak tercintanya, adalah gadis panggilan.

Sesaat setelah Sica pergi, Soojung mematikan lampu kamarnya. Ia menarik laci nakas paling bawah, lalu mengeluarkan sebuah pemantik dan rokok berisi daun ganja yang merupakan hasil transaksi dengan teman-temannya di diskotik. Kegiatan itu—menghirup halusinasi—sudah menjadi bagian dari hari-hari masa mudanya. Soojung pikir ini akan membantunya menjauh dari rasa frustrasi, setidaknya sampai beberapa jam ke depan sebelum fajar menjelang. Jadi ia segera duduk di lantai sambil bersandar di kaki ranjang, lalu menghirup asap rokok itu dalam-dalam sebelum menghembuskan sisa asapnya tipis-tipis ke udara. Ia menatap ke atas. Langit-langit kamarnya yang gelap terlihat seperti lembah hitam yang terbalik—mulut lembah itu terbuka lebar untuk menelannya. Asap-asap putih yang melayang di atasnya tiba-tiba berputar, lalu berubah menjadi kumpulan awan putih yang terbang ke angkasa dan bergabung bersama bintang-bintang. Anehnya, ia juga melihat matahari di sana. Padang rumput yang hijau, bunga-bunga merah muda yang bergoyang, kupu-kupu, matahari, bintang-bintang, kehangatan. Gadis bernama Jung Soojung itu mulai terseret menjauh dari dunia nyata.

Adalah Jongin, yang menemukan gadis itu sekarat dalam buaian halusinasinya begitu ia membuka pintu kamar itu. Bukan hal yang aneh bagi Jongin untuk dengan bebas keluar masuk kamar Soojung. Mereka sudah berteman akrab sejak kecil, ia sudah sering keluar masuk ruangan 3×3 dengan dominasi warna biru itu hanya untuk sekedar meminjam barang-barang penting-tidak penting seperti pensil warna dan komik. Lagipula ini New Orleans, dimana orang-orang tua tidak akan mengekang kebebasan individu anak-anaknya. Tapi percayalah, Jongin dan Soojung tidak pernah melakukan apapun seperti yang mungkin kau pikirkan saat ini.

“Soojung!!”, pekik Jongin panik begitu ia menyadari ada yang tidak beres pada gadis itu. Ia tidak sadar membuang kotak kado di tangannya dan berlari menghampiri Soojung yang sekarat. Gadis itu tersenyum gila ketika melihat Jongin—sebagian kecil dari dirinya masih sanggup untuk menyadari bahwa itu adalah pemuda yang ia tunggu selama empat tahun.

“Jongin, kau datang?”.

“Apa yang terjadi padamu, bodoh?”, Jongin mencoba mengangkat tubuh Soojung, tapi gadis itu meronta-ronta.

“Hentikan!! Jangan menyentuhku!!”.

“Soojung, aku…”.

“Hahaha!!”, tawa mengerikan tiba-tiba keluar dari mulut gadis itu seiring ia menendang jatuh Jongin dan melompat melewati ranjangnya. “Bagaimana kabarmu, bodoh?? Kenapa kau menghilang dariku?!!”, kalimat itu terdengar lebih seperti bentakan daripada pertanyaan. Sebagian rambut Soojung jatuh menutupi wajahnya dan itu membuatnya nampak sedikit mengerikan.

Jongin melihat sisa rokok Soojung terjatuh di lantai, dan selama yang ia ingat, Soojung tidak pernah menyukai benda-benda buruk seperti rokok dan alkohol. Ia (dulu) hanyalah seorang gadis penakut yang selalu berada dalam safety zonenya, dan lebih sering mengandalkan Jongin daripada memberanikan dirinya sendiri. Soojung kecil punya trauma dengan “mencoba sesuatu terlebih dulu daripada orang lain” dan Jongin ingat benar bagaimana semua itu terjadi. Saat itu mereka masih berumur 13 tahun, dan SMP mereka mengadakan piknik di sebuah perbukitan yang dikelilingi hutan sambil membuat penelitian serangga. Ia dan Soojung melarikan diri dari rombongan hanya untuk mengejar kumbang besar yang masuk ke hutan. Ketika Soojung berkata “Bagaimana kalau kau masuk duluan?”, Jongin menjawabnya dengan “Sesekali kau harus berhenti mengandalkanku”. Dan setelah itu, Soojung hilang selama  satu hari  satu malam di dalam hutan. Itu pertama kalinya Jongin melepas Soojung, dan gadis itu tersesat.

“Apa hidupmu di Korea terlalu menyenangkan?? Kau tidak tahu kan bagaimana hidupku di sini? Kau…tidak peduli padaku…”, air mata tiba-tiba menetes jatuh dari mata Soojung. Gadis itu terisak, dan itu membuat hati Jongin terasa sakit. Salahnya, mengabaikan Soojung sendirian di sini. Salahnya, mencintai Suzy yang sudah mencintai Myungsoo terlebih dahulu. Sekarang ia harus melakukan banyak hal untuk memperbaiki semuanya—memperbaiki Soojung dan hatinya yang pernah patah.

“Dengar Soojung, aku minta maaf karena tidak menghubungimu selama 2 tahun terakhir. Bukan karena aku tidak peduli padamu, hanya saja…”, Jongin menggigit bibir bawahnya (hanya saja aku memang tidak terlalu padamu waktu itu).

                “Hanya saja kau lupa ada orang bernama Soojung di New Orleans? Sudahlah, Jongin. Aku muak. Kau sama saja dengan orang tuaku. Kalian semua payah!!”.

Jongin menoleh cepat. “A—apa yang terjadi dengan orang tuamu?”.

Soojung memalingkan mukanya dan meringis pahit. “Mereka  bercerai, Jongin. Dan tidak ada seorang pun yang mengharapkan aku dan Sica dalam kehidupan baru mereka”.

Jongin terkesiap. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya pada Soojung saat itu. Mungkin kasihan, mungkin juga perasaan bersalah dimana ia berlaku tak jauh berbeda dengan orang tua Soojung. Jadi, selama ia pergi, gadis itu menderita sendirian karena penolakan orang tuanya? Itukah yang membuat Soojung berubah begitu banyak? Penolakan dari orang tua. Kesepian. Kesedihan. Bagaimana remaja-remaja berusia 19 tahun seperti mereka mampu menghadapi hal-hal seperti itu sendirian?

Jongin melompati ranjang di depannya dan berusaha meraih tangan Soojung, tapi gadis itu menolak dan malah menodong Jongin dengan pisau berukuran sepanjang jari  telunjuk—entah dari mana ia mendapatkannya. “Berhenti di situ!! Jangan mendekat!!”, teriak gadis itu. Jongin berhenti. Ia menatap mata Soojung dalam-dalam dan tidak menemukan jiwa gadis itu di dalamnya.

“Kau bisa menusukku dengan pisau itu kalau kau mau, tapi berhentilah menyakiti dirimu sendiri seperti ini”.

“Kau bodoh, Jongin. Aku tidak sedang menyakiti diriku sendiri. Aku sedang mencoba membuatnya bahagia. Apa itu salah? Apa bahagia itu salah untukku?”.

“Tidak. Hanya saja, kau bahagia dengan cara yang salah”, sambil berkata begitu, Jongin kembali mencoba meraih tangan Soojung. Tapi gadis itu terlalu liar dan nakal, hingga ia tidak butuh berpikir panjang untuk menusuk bahu kiri Jongin dengan pisaunya. Pemuda itu meringis kesakitan, tetapi ia tidak menyerah. Ia membekap tubuh Soojung, lalu mendorongnya ke dinding dengan keras hingga tanpa sengaja kepala Soojung terbentur. Bau anyir darah mulai menyeruak di antara mereka, tetapi tidak ada yang peduli. Jongin memegang tangan Soojung erat-erat di dinding, lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu.

“Tenanglah, Soojung. Aku akan menjagamu…”, bisiknya halus. Sayangnya saat itu Soojung sudah terlampau pusing untuk mendengar ucapan Jongin. Benturan di kepala membuat halusinasinya meledak, dan ia jatuh pingsan.

***

Matahari mulai merangkak keluar dari ufuk timur, dan berkas-berkas cahaya hangat mulai menjalar ke sela-sela kehidupan yang tadinya gelap dan beku. Soojung terbangun di bawah cahaya itu. Ia membuka mata perlahan. Kepalanya terasa begitu pening hingga ia sama sekali tidak ingat kejadian beberapa jam lalu. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan ketika semua itu sudah terkumpul, ia menyadari ada seseorang di belakangnya. Sesosok laki-laki dengan bau anyir darah kering yang semalaman penuh merelakan tubuhnya untuk menjadi sandaran Soojung.

“Kau sudah bangun?”, tanya Jongin begitu ia menyadari pergerakan Soojung.

Gadis itu menoleh, dan disambut senyuman lemah dari Jongin. “Jongin? Kenapa kau di sini?”, tanyanya, dan ketika matanya menangkap luka di bahu pemuda itu, ia buru-buru bertanya lagi “Apa yang terjadi padamu?”.

“Oh ini. Bukan apa-apa. Kemarin ada pisau jatuh dari rak dapurmu, dan itu mengenaiku”.

Soojung termenung. Sesuatu sangat mengganggu pikirannya, tapi ia tidak tahu apa. “Akan kuambilkan obat untukmu”. Gadis itu baru saja akan beranjak ketika tiba-tiba Jongin menahannya. Pemuda itu mendekap bahu Soojung erat-erat dari belakang.

“Tidak, tidak perlu. Kau tahu, aku tidak akan mati hanya karena tusukan pisau kecil”.

“Tapi…”.

“Jangan pergi dariku, kumohon. Terakhir kali aku melepaskanmu, kau tersesat. Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Soojung-ah. Aku akan menjagamu…”—dan kalimat terakhir Jongin seperti mantra yang dalam sekejap mengembalikan segala ingatan Soojung tentang kejadian kemarin malam. Gadis itu terkesiap. Matanya membulat terkejut, dan ia baru menyadari ada pisau, bercak darah, dan kotak kado yang tercecer di tengah-tengah kamarnya. Tangan gadis itu bergetar hebat, dan air matanya jatuh berkejaran, menetes di permukaan kulit lengan Jongin.

“Jongin, katakan. Apa aku yang melakukannya?? Apa aku yang melukaimu seperti ini??!”, suara Soojung bergetar hebat. Ia  mencengkeram lengan Jongin erat-erat ketika ketakutan mulai melandanya. Bodoh! Bodoh! Ia hampir saja membunuh Jongin dengan tangannya sendiri. Ia hampir saja kehilangan pemuda itu. Soojung tidak mampu membayangkan, bagaimana kalau yang terjadi pagi ini adalah sebaliknya? Bagaimana kalau yang ia temukan pagi ini bukanlah Kim Jongin tetapi mayat Kim Jongin? Soojung tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

“Tidak, Soojung. Aku yang melakukan semua ini, dan aku tahu benar mengapa aku pantas mendapatkannya”.

“Maafkan aku…”, Soojung menangis dalam-dalam, dan walaupun begitu, tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutnya. Semua itu teredam bersama kesunyian sang pagi.

Jongin hanya bisa tersenyum melihat gadisnya kembali seperti semula. Ada banyak rasa syukur yang membanjiri dirinya saat itu, jadi ia segera menghapus air mata Soojung, lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.

“Selamat datang di usia 20, Soojung-ah. Kita sudah sama-sama dewasa, jadi mari kita bersama-sama menghabiskan hidup kita dengan penuh kebahagiaan. Aku mencintaimu, selamanya…”.

8 thoughts on “(Sequel of Memory Dust) A Cold Sunshine

  1. Kyaaa itu jongin gak mati kan eon? gak mati kan? masih hidup kan? trus jadian sama soojung kan? iyakan? trus suji gimana? masih ada lanjutannya? aduh aduhh aku kepoo~… eon, aku sebagai kaistal shipper bahagia mereka bersatu aaah senangnya:)
    tapi aku masih kepo noh sama suji… duhduh~

    1. Ga kok, Jongin ga mati… Dia hidup, terus jadian sama Soojung, terus nikah, terus punya anak banyak, terus jadi kakek nenek #apasih
      kalo suji, emm…entahlah. Mungkin ada? Kita lihat saja nanti :3
      Anyway, thanks ya udah komen😄

  2. Eon, aku langsung baca cerita ini dan langsung seneng tanpa membaca ceritanya(?) aku gasuka suzy-kai jadi mianhae ga aku baca ceritanya, aku yakin keren banget ouo fighting neee~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s