(Fanfic) Lilac and the Last Time

alone-beautiful-checked-checkered-fashion-Favim.com-328546

**I** : Percakapan dengan Karen Kennington, 7 hari setelah kematian Elliot

**II**: Percakapan dengan Judith Warner, 8 hari setelah kematian Elliot

**I**

T: “Kapan kau terakhir kali bertemu dengannya?”.

K: “Seminggu yang lalu. Kami bertemu di bandara sebelum keberangkatannya ke Belgia. Dia memberiku seikat lilac ungu dan silet, lalu menyanyikan sebuah melodi yang sangat kubenci di dekat telingaku. Dia bilang, itu melodi favoritnya”.

T: “Melodi apa itu?”.

K: “A Walk in the Forest milik Yiruma. Kau tahu?”.

T: “Yah, kukira pengetahuanku cukup buruk kalau soal musik. Dan kenapa kau membenci melodi itu ngomong-ngomong?”.

K: “Karena ia pernah meninggalkanku sendirian ketika kami sedang jalan-jalan di hutan”.

T: “Benarkah?”.

K: “Entahlah, kupikir begitu. Tapi mungkin saja kami memang tidak sengaja terpisah. Dia benar-benar ceroboh!”.

T: “Hahaha. Oh ya, siapa tadi namanya?”.

K: “Elliot”.

***

                Karen menumpukan sikunya di jendela dan melihat daun-daun maple merah maroon berguguran di luar sana. Ia tidak mengerti mengapa daun-daun itu berwarna merah maroon. Apakah itu jenis tertentu yang hanya tumbuh di halaman rumah sakit? Ataukah itu hanya efek sinar matahari ? Ah benar, mungkin itu hanya efek sinar matahari musim gugur yang sedang ditelan garis horizon.

“Kau masih di sini?”, suara lemah dari Elliot mengejutkan Karen dari lamunannya. Gadis itu menoleh hanya untuk mendapati pemandangan yang tidak menyenangkan terpampang di depan matanya: Elliot, perban berdarah, dan selang infus.

“Sudah bangun?”, Karen berjalan menghampiri tempat tidur pemuda itu dan duduk di sisinya. Matanya meneliti air muka Elliot dengan seksama, lalu menghela nafas lega ketika ia tak lagi mendapati kulit pucat pasi seperti beberapa jam lalu.

“Aku sudah terjaga sejak tadi”, sahut Elliot.

“Kepala sekolah sudah memanggil Keith, dan kurasa ia akan diskors selama beberapa hari. Kau harus berterima kasih padaku soal itu”, ucap Karen. Ia teringat bagaimana beberapa jam lalu ia menemukan Keith dan Elliot berkelahi di halaman belakang sekolah hingga babak belur dan berdarah-darah. Baiklah, seharusnya itu bukan masalah besar karena mereka adalah anak remaja yang sedang tumbuh dewasa. Tapi…hemofili itu…luka-luka berdarah itu…bisa saja membunuh Elliot dalam sekejap mata…

**I**

T: “Jadi Elliot mengidap hemofili?”.

k: “Ya”.

T: “Sejak kapan kau tahu hal itu?”.

K: “Sejak kami pacaran dua tahun lalu. Aku selalu memintanya untuk berhati-hati agar tidak terluka, tapi dia benar-benar tidak peduli. Anak bernama Keith itu senang menyulut emosinya, dan yah…mereka sering berkelahi”.

T: “Keith?”.

K: “Keith adalah sepupu Elliot, tapi mereka sama sekali tidak akur. Sepertinya ada sedikit dendam keluarga di antara mereka”.

T: “Oh, oke. Kembali ke topik hemofili, apakah keluarga Elliot tahu bahwa ia mengidap penyakit itu?”.

K: “Kakaknya tahu, tapi orang tuanya tidak. Elliot tidak mau menceritakan soal kondisinya itu pada keluarganya. Ia tidak mau dikasihani. Ia benar-benar bodoh!”.

***

Karen menyesap secangkir teh hangat selagi ia menunggu Elliot yang sedang bersiap-siap di kamar. Ada banyak hal yang berputar-putar di otaknya saat itu. Pertama, ruang tamu Elliot sangat mengesankan. Ada foto keluarga mereka yang dicetak besar dan dipajang di pigura. Sepertinya foto itu diambil belum lama ini karena rambut Elliot masih sama seperti sekarang: berwarna jet black, dan cukup panjang hingga menutupi daun telinga. Kakak Elliot, Judith, juga masih sama seperti sekarang. Wajah cantiknya dibingkai rambut panjang sepunggung yang dicat coklat kemerahan. Tidak hanya itu, ruang tamu ini juga dipenuhi lukisan-lukisan abstrak yang mungkin saja bernilai seni tinggi seperti milik Picasso, tapi Karen tidak terlalu tertarik untuk memahami maknanya.

Kedua, hari ini ia dan Elliot akan pergi menaiki bukit bersalju bersama Stefan, Alfonso, dan Meredith hanya untuk bersleighride ria seperti anak kecil. Yang menjadi kekhawatiran Karen adalah apakah seluncur itu akan cukup aman untuk Elliot atau tidak, dan apakah berseluncur itu semenyenangkan yang ia bayangkan atau tidak. Di usianya yang sudah menginjak 17 tahun, Karen belum pernah nkmatnya bersleighride menuruni bukit, jadi ia menganggap ketakutannya kali ini sangat rasional.

“Kalian mau pergi kemana hari ini?”, suara serak-lembut Judith membuat Karen segera berhenti menyesap tehnya dan mengangkat wajah. Kakak Elliot itu terlihat cantik bahkan hanya dengan potongan dress biru tua yang agak lusuh—mungkin ia baru bangun tidur. Judith menarik kursi di depan Karen, lalu duduk dan membelai Siberian Husky kecil yang digendongnya. Nama anjing itu adalah Lui. Karen memberikannya pada Elliot ketika pemuda itu diharuskan istirahat di rumah beberapa waktu oleh dokter karena hemofilinya. Ia berharap Lui dapat menemani Elliot selama masa itu.

“Kami akan naik ke bukit bersama beberapa teman”, ucap Karen. “Mau ikut?”.

Judith tertawa sambil mengelus puncak kepala Lui. “Tentu saja. Kalau aku masih seumuran kalian, sih”.

“Dan aku berharap aku juga tidak terlalu tua untuk melakukan hal ini”.

Judith tertawa lagi, kali ini hingga matanya sedikit menyipit. Karen tidak tahu apa yang membuat kalimatnya barusan terdengar lucu hingga Judith tertawa begitu keras. Gadis itu diam saja sambil mengamati kerut-kerut yang muncul di bibir Judith.

“Apa ini salah satu ide buruk Elliot?”, tanya Judith. Karen menggeleng cepat.

“Bukan. Ini hasil perpaduan otak Alfonso dan Meredith, jadi bisa dibilang kami adalah korban”, Karen mengendikkan bahu dan menyesap tehnya sekali lagi. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Elliot yang setengah berlari sedang menuruni anak tangga di balik dinding ruang tamu. Karen mendongak ke atas, ia mendapati Elliot turun sambil menggendong ransel besar di punggungnya.

“Bocah tengik, untuk apa ransel sebesar itu?”, Judith bertanya dengan alis berkerut.

“Prakiraan cuaca hari ini mengatakan akan ada badai salju, jadi aku membawa banyak barang untuk jaga-jaga. Kau tahu, permainan alam tidak bisa ditebak”, Elliot dengan agak tak acuh berjalan melewati meja tamu, lalu masuk ke ruang makan untuk mengambil sebotol air dingin dari kulkas.

“Elliot, apa kau gila?! Di luar sana sedang hujan salju dan kau  malah membawa air es?!”, Judith melempar omelannya pada Elliot dengan nada tinggi, tapi adiknya itu tetap bersikap santai seperti biasa.

“Aku membutuhkannya Judith. Cuma ini yang bisa membekukan darahku kalau aku terluka”.

**II**

T: “Selamat pagi. Apakah benar Anda adalah nona Judith Warner?”.

J: “Benar”.

T: “Sebelumnya, aku turut berduka cita atas insiden yang menimpa adik Anda. Terkait keterangan nona Karen Kennington dan insiden tersebut, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan”.

J: “Silakan”.

T: “Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan Elliot?”.

J: “Sebelum ia berangkat ke bandara”.

T: “Itu berarti…”

J: “Sekitar seminggu yang lalu”.

T: “Nona Kennington berkata Elliot akan pergi ke Belgia, apa itu benar?”.

J: “Ya, benar. Dia mendapat beasiswa dan berencana mengambil kuliah di sana”.

T: “Oh. Lalu apakah Anda tahu bahwa adik Anda mengidap hemofili?”.

J: “Adikku tidak mengidap hemofili. Aku menemaninya saat medical check up untuk mendaftar beasiswa, dan ia sama sekali tidak punya penyakit semacam itu. Semuanya normal. Lagipula, keluarga kami tidak punya riwayat hemofili”.

T: “Anda yakin?”.

J: “Sangat”.

***

                Permainan sleighride hari itu berubah menjadi malapetaka ketika angin kencang datang bersama mendung hitam yang tiba-tiba memenuhi seisi langit. Karen, Elliot, Stefan, Alfonso, dan Meredith terkejut setengah mati, tapi badai itu datang terlalu tiba-tiba hingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Longsoran salju itu mengubur mereka selama beberapa jam, sebelum akhirnya beberapa tim pencari dan anjing pelacak menemukan mereka dalam keadaan hypothermia.

“Ada satu orang yang tidak bisa diselamatkan karena alveolus paru-parunya penuh terisi air”.

“Siapa?”.

“Seorang pemuda. Namanya Stefan”.

Karen samar-samar mendengar percakapan itu diantara ketidaksadarannya. Suara itu terdengar jauh dan berdengung, sangat mengganggu. Ia mencoba membuka mata, tetapi pusing yang menggila tiba-tiba melandanya dan membuat usahanya gagal. Akhirnya ia hanya terus terpejam sambil menajamkan indera pendengar.

“Bagaimana dengan yang lain?”.

“Semuanya selamat. Pasien yang bernama Elliot itu sudah siuman, sedangkan yang bernama Alfonso dan seorang gadis bernama Karen masih belum sadarkan diri. Tapi bisa kupastikan kondisi mereka baik-baik saja”.

Tunggu! Dimana Meredith? Apakah mereka gagal menemukan gadis itu? Karen bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan gelisah. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membuka mata, dan beruntung kedua dokter itu langsung menyadari pergerakan kecil Karen. “Anda sudah sadar?”.

“Dimana Meredith?”, suara Karen lemah dan putus-putus. Ia bahkan ragu apakah dokter itu bisa mendengarnya atau tidak. Tubuhnya masih terasa dingin walaupun jelas-jelas uap hangat sedang mengepul dari penghangat yang dipasang di dekat tempat tidurnya.

“Meredith?”.

“Tadi kami pergi berlima”, ucap Karen. Dokter itu terlihat bingung. Ia menoleh pada rekan kerjanya untuk meminta semacam informasi, tapi rekannya malah mengendikkan bahu dan berkata “Tim penyelamat sudah mencari ke seluruh bukit, dan mereka hanya menemukan 4 orang. Tidak ada korban yang bernama Meredith. Lagipula, menurut keterangan tuan Elliot, kalian memang cuma berempat”.

“APA?! Tidak, dia bohong. Kami pergi berlima. Ide pergi ke bukit itu adalah ide Meredith”, Karen, entah bagaimana, tiba-tiba menemukan kekuatan untuk berteriak seperti orang gila.

“ Maaf Nona, tapi baik keterangan tuan Elliot maupun tim penyelamat menyebutkan tidak ada gadis lain di rombongan ini kecuali Anda”.

**I**

T: “Jadi mereka gagal menemukan Meredith?”.

J: “Begitulah. Dan Elliot malah berbohong soal keberadaan Meredith. Ia bilang kami hanya pergi berempat: aku, ia, Stefan, dan Alfonso. Ide menaiki bukit itu adalah ide Alfonso sendiri. Bahkan ketika aku memarahinya, ia tetap bersikeras bahwa orang bernama Meredith itu tidak ada sejak awal”.

T: “Oh, itu pasti sangat membingungkan”.

J: “Aku jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya dipikirkan Elliot soal Meredith. Maksudku, kalau ia memang membencinya, ia tidak perlu bersikap sejauh itu”.

T: “Kenapa kau pikir Elliot membenci Meredith?”.

J: “Karena gadis itu merayunya di sebuah club malam hingga membuat dirinya sendiri hamil. Orang tua Elliot marah besar soal hal itu”.

T: “Jadi ketika hilang, Meredith dalam kondisi hamil?”.

J: “Ya”.

T: “Benar-benar cerita yang memilukan”.

J: “Itu tidak lebih memilukan dari cerita yang akan kau dengar soal saat-saat terakhirku dengan Elliot”.

***

                Suara keriat-keriut dari lantai parquet yang digilas roda koper itu sebenarnya membuat Karen sedikit risih. Bukan hanya karena suara itu terus mengikuti langkahnya, tapi juga karena suara itu menandakan bahwa Elliot—kekasihnya—akan segera pergi. Anehnya, ia tak ingin mengucapkan sepatah kata pun pada Elliot sejak insiden hilangnya Meredith itu. Perasaan bersalah masih menghantui Karen hingga ia tidak bisa tidur nyenyak selama malam-malam musim dingin. Akibatnya, kedua matanya kini dihiasi lingkaran hitam seperti riasan pesta Halloween.

“Kau masih percaya bahwa Meredith itu ada?”, tanya Eliot sambil menutup pintu rumahnya dari luar. Sengatan udara musim semi yang hangat terasa menyilaukan pagi itu. Karen bahkan harus menyipitkan matanya hanya untuk melihat wajah putih Elliot yang ditempa sinar matahari.

“Hentikan omong kosongmu, Elliot. Dia teman sekelas kita selama tiga tahun. Bagaimana mungkin kau bisa melupakannya dalam sekejap mata? Apa otakmu terguncang hebat karena longsoran itu?”. Ini sudah kesekian kalinya Karen meluapkan emosinya pada Elliot melalui kata-kata kasar. Masalah hilangnya Meredith bukanlah masalah sepele bagi Karen, karena mereka sama-sama wanita. Dan Karen mencoba memahami perasaan gadis itu setelah dicampakan dengan cuma-cuma oleh Elliot.

“Sudahlah, Karen. Aku lelah memperdebatkan makhluk imajinermu itu. Aku akan tinggal di Belgia selama dua tahun, tidak bisakah kau memberiku kenangan baik sebelum pergi?”, Elliot menggapai tangan Karen dengan lembut. Gadis itu membiarkan dirinya dituntun masuk ke mobil oleh Elliot.

Perjalanan dari rumah Elliot menuju bandara mungkin memakan waktu sekitar setengah jam, tapi entah kenapa Karen merasa dirinya sudah berkendara selama tiga jam lebih melewati jalan yang itu-itu saja. Seperti deja vu, pikir Karen. Sesuatu sedang mencoba mempermainkannya, dan ia tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari permainan itu.

“Elliot, kita mau ke bandara kan?”.

“Ya. Kenapa?”.

“Kau membawa mobil ini berputar-putar selama lebih dari tiga jam, apa kau tidak sadar?”.

“Huh? Apa maksudmu? Kita baru saja keluar dari halaman rumahku beberapa menit lalu”, Elliot berkata tanpa menoleh. Fokusnya masih terpaku pada jalan raya yang panjang dan lurus di depan sana.

“Tidak Elliot! Kau membohongiku!! Kau mencoba mengacaukan pikiranku!! Oh, aku tahu. Kau sudah mencoba melakukannya sejak awal bukan??!!”, suara Karen tiba-tiba berubah keras dan panik. Nafasnya putus-putus, dan matanya berputar-putar tanpa fokus. Tiba-tiba Karen merasa Elliot adalah ancaman.

“Apa maksudmu Karen?! Aku tidak menipumu!!”.

“Kau menipuku!! Kau bersekongkol dengan dokter-dokter itu untuk menyembunyikan mayat Meredith dan menghapus keberadaannya dari pikiran orang-orang. Aku tahu semua itu, Elliot. Kau tidak pergi ke Belgia untuk melanjutkan kuliah. Itu semua hanya akal-akalanmu saja!!! Kau hanya sedang melarikan diri dari tindakan kriminalmu bukan??!”.

“Karen…”.

“Hentikan Elliot!! Hentikan mobil ini!! Kau tidak boleh ke bandara!!”, Karen memaksa merebut setir dari Elliot hingga mobil langsung oleng dan…

BRAAAAAAAAAKKKKHH!!!

**I**

T: “Jadi kalian bertengkar di dalam dan membuat mobil itu menabrak pembatas jalan?”.

J: “Aku mencoba menghentikan permainan konyol Elliot dengan mengambil alih kemudi, tapi rupanya aku tidak cukup kuat. Mobil oleng dan menabrak pembatas jalan dengan keras hingga tubuh kami terguncang”.

T: “Apakah guncangan itu yang membunuh Elliot?”.

J: “Secara tidak langsung, ya. Hal terakhir yang kuingat sebelum pingsan adalah pecahan kaca depan mobil yang berkerlip-kerlip karena cahaya matahari berserakan di dashboard.  Setelah itu ada darah, lalu suara angin, dan terakhir, rambut merah Elliot”.

T: “Dengan kata lain, Elliot tewas di tempat kejadian? Atau dia hanya terluka parah?”.

J: “Kau tahu? Aku sangat bersyukur karena hari ini aku masih bisa hidup. Selamat dari kecelakaan itu adalah sebuah mukjizat. Kupikir, setelah darah-darah dan pecahan kaca itu, aku dan Elliot akan mati begitu saja. Tapi rupanya tidak. Kami terbangun beberapa menit kemudian, dan untuk Elliot—ia mati beberapa menit setelahnya”.

***

Kecelakaan mobil itu adalah kecelakaan kedua yang Karen alami bersama Elliot, tentunya setelah kecelakaan di bukit salju pada awal musim dingin lalu. Seperti orang yang terbangun dari tidurnya karena suara berisik, Karen terbangun karena suara pintu mobil yang didobrak paksa oleh Elliot. Laki-laki itu berlumuran darah, tapi ia masih bisa berdiri dan berjalan meninggalkan mobil layaknya orang normal.

“Elliot…”, Karen menggumamkan nama itu pelan. Ia mengangkat kepalanya. Ada luka berdarah di pelipisnya, dan itu membuatnya pusing setengah mati. Ia membuka paksa pintu mobil, lalu mengejar Elliot yang sedang menyeret kopernya menyeberangi jalan.

“Elliot, tunggu!!”.

Laki-laki itu pasti marah padanya, pikir Karen cemas. Elliot bahkan tidak mau menolehkan kepala pada Karen yang sedang mati-matian memanggilnya. Jalan raya itu sangat bising. Mobil dengan kecepatan tinggi terus saja berlalu lalang dan memperlebar jarak antara mereka. Karen terpaksa berhenti beberapa saat sebelum mencari celah di antara lalu lintas yang padat untuk mencapai sisi jalan satunya.

“Elliot, berhenti!!”, gadis itu sontak menahan lengan Elliot dari belakang. “Maafkan aku. Semua itu adalah kesalahanku”.

Elliot menyentak tangan Karen, lalu membalikkan badan. Aneh. Laki-laki itu tersenyum. Ia tersenyum seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Bahkan setelah menjalin hubungan selama dua tahun pun, Karen belum bisa memahami sifat asli Elliot. Laki-laki itu… benar-benar seperti danau yang gelap dan dalam.

“Kenapa kau mengikutiku, Karen? Bukankah tadi kau memintaku untuk menghentikan semua permainan ini? Aku sudah menghentikannya tepat di sini. Kau tidak perlu takut lagi”, nada bicara Elliot terdengar tenang, tapi membunuh. Ia lalu memberikan seikat lilac ungu dan sebuah silet kepada Karen—yang anehnya Karen tidak melihat dua benda itu dimanapun sejak tadi.

“Dua benda ini akan mengobati rasa takutmu”, Elliot menepuk bahu Karen, lalu menarik gadis itu sedikit hingga bibirnya tepat berada di samping telinga Karen. Lalu…melodi itu…kenangan tentang hutan yang memisahkan mereka…semuanya bercampur menjadi satu dalam otak Karen—seperti galaksi yang berputar—sampai tiba-tiba ia menyadari bahwa tubuh Elliot sudah ambruk tepat di depan kakinya. Mati.

**II**

T: “Apa keluarga Anda punya anggota yang bernama Keith?”.

J: “Keith? Tidak”.

T: “Bagaimana dengan Stefan, Alfonso, dan Meredith?”.

J: “Aku tidak mengenal nama-nama itu kecuali Meredith Westwood. Dia adalah anak dari kolega ayah kami. Apa yang diceritakan Karen soal Merry?”.

T: “Dia bilang, Meredith hilang ketika terjadi longsoran salju di bukit yang mereka pakai untuk berseluncur, dan Elliot serta beberapa dokter rumah sakit bersekongkol untuk menyembunyikan mayatnya”.

J: “Itu konyol. Untuk apa Elliot melakukan  semua itu? Adikku mencintai Merry. Keluarga kami bahkan menyetujui permintaan orang tua Merry untuk menjodohkan mereka. Lagipula, tidak ada longsoran salju yang membunuh Merry. Ia bahkan tidak pernah pergi dengan Elliot hanya untuk berseluncur seperti anak kecil. Gadis itu masih hidup dan tinggal di Boston sejak empat bulan lalu.”.

T: “Uhm, dan apakah ia hamil?”.

J: “Siapa? Merry? Kurasa tidak”.

T: “Anda yakin?”.

J: “Anda bisa pergi mengunjunginya di Boston kalau tidak percaya”.

T: “Pertanyaan terakhir. Sejauh mana Anda mengenal Karen Kennington?”.

J: “Dia dulu gadis yang baik. Elliot mengenalkannya padaku jauh sebelum mereka berpacaran. Karen bahkan sempat memberikan seekor anak kucing Persia bernama Lui di hari ulang tahun Elliot. Ia tahu Elliot menyukai kucing. Kurasa hubungan mereka baik-baik saja sampai Elliot mengenal Merry dan jatuh cinta pada gadis itu”.

T: “Apakah nona Kennington tahu tentang perjodohan itu?”.

J: “Ya, dia tahu, dan dia shock berat. Untuk hal ini, aku merasa kasihan padanya. Gadis itu mulai berubah agresif kepada Elliot”.

T: “Kalau Anda tahu perubahannya, mengapa Anda membiarkan ia mengantar Elliot ke bandara?”.

J: “Baik aku maupun Elliot sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan datang ke bandara. Kami mencoba menyambutnya dengan ramah sampai kemudian aku meninggalkan mereka berdua untuk ke toilet, dan ketika aku kembali, mereka sudah menghilang. Sesaat kemudian, terjadi keributan di dekat tangga bandara. Orang-orang menemukan Elliot tewas keracunan di sana”.

T: “Cerita Anda jauh berbeda dengan apa yang diceritakan nona Kennington”.

J: “Memang apa yang diceritakannya?”.

T: “Ia bilang ia mengantar Elliot ke bandara sebelum pergi ke Belgia, lalu terjadi konflik diantara mereka selama perjalanan hingga mobil itu menabrak pembatas jalan. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas di depan bandara dan sempat tak sadarkan diri. Setelah itu, ia terbangun dan melihat Elliot sudah berjalan masuk ke bandara dengan berlumuran darah…”.

J: “Itu sangat tidak masuk akal”.

T: “Tentu saja. Dan itu memang berbeda dari apa yang dilaporkan polisi sejauh ini. Tidak ada kecelakaan mobil di depan bandara pada tanggal itu. Korban juga bukan mati karena kehabisan darah, melainkan sengaja diracuni lewat makanan”.

J: “Tapi, bagaimana bisa ia menceritakan cerita imajiner semacam itu?”.

T: “Baiklah, mungkin ini sedikit mengejutkan bagi Anda, tapi aku harus mengatakannya dengan jujur. Sebuah goncangan mental—entah karena kisah cinta Elliot dan Meredith atau hal lain—telah membuat kondisi kejiwaan nona Kennington terganggu. Ia mulai mengarang kisah-kisah imajinasi sebagai pelampiasan emosinya, kemudian menganggap kisah-kisah itu nyata. Dengan kata lain, ia tidak mampu membedakan mana yang fakta mana yang imajiner. Karangannya mengenai penyakit hemofili itu mungkin adalah salah satu bentuk ungkapan bahwa ia bisa menjadi pasangan yang melindungi Elliot dari bahaya. Sedangkan hilangnya Meredith bisa jadi adalah keinginannya sendiri yang kemudian terdistorsi dan ditimpakan pada Elliot. Kemungkinan besar, nona Kennington juga tidak sadar bahwa sebenarnya ia lah yang membunuh adik Anda”.

J: “Jadi…maksud Anda…?”.

T: “Ya. Karen Kennington mengidap skizofrenia”.

________________________________________________________________________________

*** : Cerita berdasarkan pikiran Karen Kennington

_________________________________________________________________________________

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitifemosional dan tingkah laku.[1] Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). (Wikipedia)

_________________________________________________________________________________

 

A/N: This story is heavily inspired by a novel titled THERAPY by Sebastian Fitzek . It tells about a psychologist who lost his daughter in a clinic mysteriously, and is unable to put the puzzled hints together until he meets a novelist named Anna Glass. However, it turns out that Anna is just a product of his distorted sanity, and he is the one who killed his daughter four years ago in a garden. I borrowed this novel from my friend when I was doing voluntary work, and I think it is freaking worth it to read🙂

2 thoughts on “(Fanfic) Lilac and the Last Time

  1. read this a little bit more than while ago, and love it very very much. i told this story to my friend then she read it then she liked it as well as i am. btw, im looking for the book you’re talking about and cant find it anywhere. sigh.

    1. Hi, thanks for reading. I actually think that this story is not worth enough to read and kinda being surprised when such a good author like you is loving it. hahahha.
      You couldn’t find it? well, it might be published a long long time ago, so it was no longer in the bookstore -,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s