(Fanfic) Fine Mapple Drops

Favim.com-36762

           Apa kalian ingat tentang kisah Hyeju dan Jiho? Ya, aku pernah menceritakannya dalam satu kepingan cerita lain, dan itu adalah ketika mereka dihadapkan pada sebuah situasi yang menggerus kebahagiaan mereka. Kali ini aku akan menceritakannya lagi, kisah Jiho dan Hyeju dari awal, dari pertama kali mereka bertemu hingga mereka jatuh cinta.   Ini bukan kisah seromantis cinta Jack dan Rose di atas kapal Titanic, tetapi juga tidak setragis Romeo dan Juliette yang sama-sama memilih mati demi cinta mereka. Tidak. Ini hanya sebuah kisah cinta biasa yang terjadi pada orang-orang biasa juga—dibumbui sedikit rasa putus asa, kesepian, harapan, dan kebahagiaan—dimulai dari dua anak manusia yang dibesarkan dalam keluarga berbeda. Tunggu, ini juga bukan soal perbedaan status sosial dimana yang satu bergelimang harta dan yang lain miskin sehingga orang tua si kaya tidak menyetujui cinta mereka. Tidak tidak. Tema itu sudah basi. Dua orang dalam kisah ini sama-sama dibesarkan di keluarga berada, hanya saja fase kehidupan menuju remaja selalu membawa kesepian pada individunya. Dan kesepian itulah yang mempertemukan mereka di sebuah danau, saat musim gugur, 12 tahun lalu.

         Semua ini dimulai dari sudut pandang Ryu Hyeju, seorang gadis berusia 12 tahun yang senang mengepang rambutnya dengan pita hijau setiap kali berangkat ke sekolah. Ia gadis yang ceria, banyak bicara, tetapi terlalu malu untuk mengungkapkan emosinya pada orang-orang. Di usia mudanya, ia sudah berpikir bagaimana agar dirinya selalu tampak positif di mata orang lain. Ceria dan menyenangkan, tidak ada yang tahu bahwa perceraian kedua orang tuanya membuatnya amat  sangat kesepian. Gadis itu membutuhkan seseorang yang mau mendengarnya, tetapi bukan seseorang yang ia kenal di dunia nyata. Kenapa? Karena ia takut orang itu akan mengasihaninya. Ia takut orang itu akan tahu bahwa selama ini ia hanya pura-pura bahagia. Jadi apa yang harus ia lakukan?

            Hyeju tidak punya ide apapun sampai suatu sore, sebuah film yang ia tonton melalui saluran tivi bersemut memberinya inspirasi. Film itu bercerita tentang seorang gadis seumurannya yang menghanyutkan surat botol berisi harapan agar ia sembuh dari penyakit mematikan ke sebuah sungai. Beberapa hari kemudian, terjadilah keajaiban. Ilmu kedokteran menemukan vaksin untuk penyakitnya dan gadis itu pun sembuh. Katanya, seorang malaikat memungut surat gadis itu, lalu membantu para ilmuwan menemukan vaksinnya. Dan dalam sekejap, otak dangkal Hyeju mempercayai apa yang dilihatnya. Jika ia menghanyutkan sebuah surat botol ke sungai, maka seorang malaikat akan memungut dan membantunya menyelesaikan masalah. Jadi, sore itu juga ia masuk ke kamar dan menulis…

Dear malaikat,

Aku tahu ini bodoh dan sedikit tidak masuk akal, tapi aku memang sengaja menulis surat ini untukmu. Namaku Ryu Hyeju, umurku 12 tahun. Aku tidak terlalu pintar dan tidak terlalu cantik, tapi itu semua bukan masalah. Maksudku, aku punya masalah lain yang lebih penting. Ayah dan ibuku bercerai setahun lalu, dan itu benar-benar membuatku frustrasi. Hatiku sedih sekali. Apa yang harus kulakukan, malaikat? Kalau aku menunjukkan kesedihanku, orang-orang akan mengasihaniku, ibu pun juga akan bertambah sedih. Bisakah kau memberiku saran?

Tolong balas suratku yah. Alamatku di Perumahan Gyeongdu no 14, distrik Gangnam, Seoul. Jangan lupa beritahu aku namamu🙂

Ryu Hyeju

              Adalah Park Jiho, seorang anak laki-laki seumuran Hyeju yang tanpa sengaja menemukan surat botol itu ketika ia bermain-main di sungai dekat sekolahnya. Ia membaca surat itu, lalu tertawa  geli karena mendapati isinya lebih konyol dari film Barbie koleksi adik angkatnya. Tetapi Jiho akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah balasan.

Dear Hyeju,

Halo Hyeju, namaku Park Jiho. Kau bisa memanggilku Jiho saja. Aku turut berduka cita atas perceraian orang tuamu, dan kuharap kau tabah menghadapinya. Kedua orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil—aku tidak pernah ingat bagaimana wajah mereka. Setidaknya nasibmu jauh lebih baik daripada aku. Tapi kalau kisahku tidak membuatmu merasa lebih baik, kau bisa mengirimiku surat kapan saja. Aku akan membalasnya. Aku janji.

Park Jiho

          Jadi, nama malaikat itu adalah Park Jiho–pikir Hyeju kecil. Ia kembali membalas surat itu, Jiho kembali membalasnya beberapa hari kemudian, dan begitulah seterusnya mereka berkomunikasi  hingga musim berganti, salju mencair, bunga-bunga bermekaran, lalu berguguran kembali.

Dear Jiho,

Aku melihat teman les musikku dijemput kedua orang tuanya sementara aku harus berjalan sendiri sambil membawa biolaku. Padahal saat itu hujan deras…

____________________________________________________________________________________________

Dear Hyeju,

Orang tua angkatku membelikan sepeda baru, tapi kemudian temanku yang berbadan besar—Lee Sunwoo—meringsekkannya dalam satu injakan. Sepertinya dia dendam padaku…

______________________________________________________________________________________________

Dear Jiho,

Aku mendapat nilai bagus dalam tes musik hari ini, tapi sayangnya ibu tidak terlalu peduli. Kurasa dia punya pacar baru yang membuatnya jatuh cinta…

______________________________________________________________________________________________

Dear Hyeju,

Tiba-tiba aku ingin melarikan diri dari rumah karena  orang tua angkatku tidak mengijinkanku ikut klub taekwondo. Mereka tidak mengerti…

______________________________________________________________________________________________

Dear Jiho,

Melarikan diri? Kemana?

_____________________________________________________________________________________________

Dear Hyeju,

Kapan?

______________________________________________________________________________________________

Dear Jiho,

Apa rencanamu?

______________________________________________________________________________________________

Dear Hyeju,

Bagaimana?

______________________________________________________________________________________________

Dear Jiho,

Apa yang bisa membuatku tahu kalau itu kau dalam satu kedipan?

______________________________________________________________________________________________

Dear Hyeju,

Sweater putih, headphone, dan jaket hitam. Kau?

______________________________________________________________________________________________

Dear Jiho,

Pita hijau. Kutunggu jam 9 pagi. Jangan terlambat.

______________________________________________________________________________________________

         Di dunia ini, kebahagiaan itu hanya ada dua macam. Pertama, kebahagiaan yang kau sadari setelah momennya berlalu. Kedua, kebahagiaan yang kau sadari ketika momennya berlangsung. Dalam hal ini, pertemuan Jiho dan Hyeju 12 tahun lalu di sebuah musim gugur itu adalah kebahagiaan jenis pertama. Memangnya apa yang bisa kau harapkan dari pertemuan konyol dua anak kecil yang belum mengerti dunia? Mereka mengatakan banyak tentang perasaan mereka dalam lembaran surat-surat itu, tetapi ketika mata-mata polos mereka beradu langsung, pipi pun merona merah dan suara seakan tenggelam di dasar danau yang dingin. Sekali lagi, mereka hanya anak-anak ingusan yang dipertemukan oleh kesepian.

            Sepulang dari sana, mereka tidak lagi menulis surat satu sama lain. Mungkin mereka malu. Mungkin malas. Atau mungkin pertemuan itu membuat mereka terlalu bahagia hingga tidak ada lagi yang perlu dicurahkan melalui surat-surat sendu.

             Tetapi takdir Jiho dan Hyeju tidak berhenti sampai di situ. Tiga tahun kemudian, mereka bertemu lagi dalam upacara penerimaan siswa baru Seoul Art High School.  Saat itu Jiho datang terlambat. Ia berlarian menuju aula yang sudah dipenuhi wajah-wajah asing teman-teman barunya, lalu berdiri di barisan paling belakang sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah sebelum seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

             “Park Jiho?”.

          Suara lembut gadis itu seperti sebuah simfoni familiar yang berasal dari masa lalu. Jiho mengangkat kepalanya, menoleh, lalu mendapati seorang gadis berpita hijau berdiri tepat di sampingnya. Gadis itu sudah bertumbuh jauh lebih tinggi dari terakhir kali mereka bertemu—tetapi tentu tak cukup tinggi untuk mengalahkan badan jangkung Park Jiho. Ia tersenyum, kedua matanya membentuk sepasang bulan sabit yang berkilauan. Dan bagaimana pun juga, Jiho tidak mampu menahan ribuan kupu-kupu dalam rongga dadanya untuk tidak menyeruak. Satu hal yang ia pahami, ia jatuh cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s