(Fanfic) Confessions  1/2

ko11

Confession : Kitahara Mizuki

Yuko-sensei…

Hari ini, aku membiarkan Shuuya melihat sisi tergelap dari diriku. Sepetak ruang hitam yang mengendapi separuh jiwaku, takkan pernah kuberitahukan pada siapapun selain separuh jiwaku yang lain. Kau pasti pernah mendengarnya kan? Kegilaan gadis beralias Lunacy, yang gemar mengumpulkan obat-obatan dan meracik ramuan-ramuan dengan dosis acak  untuk meregang nyawa binatang. Seorang belia yang bulan lalu menyarati tajuk kriminal berbagai surat kabar seantero Jepang karena telah membantai seluruh anggota keluarganya tanpa ampun.

Ya, itu aku. Kitahara Mizuki.

Apa kau pernah menyangkanya…sensei?

Aku bertaruh, tidak. Bahkan setelah artikel tentang Lunacy menjadi momok di negeri ini, pemerintah masih berpihak padaku melalui Hukum Kriminal Remaja. Mereka hanya memasukkanku ke sebuah rehabilitasi selama satu minggu, dan dengan begitu saja melepasku lagi. Sekolah tidak perlu tahu. Dan aku merasa begitu bangga karena hari ini aku masih bisa berdiri di sini. Memerintah kelas untuk memberi salam padamu. Mengerjakan tugas-tugas konyol yang kau berikan. Juga mendengar pengakuanmu hari itu, di suatu penghujung musim semi, tentang Manami kecilmu yang telah dibunuh oleh dua siswa di kelas ini.

Siswa ‘A’ dan siswa ‘B’.

Lucunya, ini bukan tentang menguak identitas yang tersemat di balik dua inisial itu (karena hanya dengan ciri-ciri yang kau sebutkan saja, kami sudah tahu bahwa itu Shuuya dan Naoki), tetapi bagaimana kau mencoba menyeret mereka ke dalam sebuah permainan mental yang kau rancang. Kupikir itu konyol. Kau berkata telah menyuntikkan darah HIV Sakuramiya-sensei ke dalam kotak susu mereka. Naoki mungkin akan serta merta percaya. Tetapi apa kau pikir Shuuya akan menelan tipuanmu mentah-mentah? Mungkin tidak.

Lagipula sensei, apa kau punya nyali untuk membunuh orang seperti nyali yang kumilikki? Bukankah beberapa jenak lalu kau baru saja berorasi mengenai harga sebuah kehidupan? Atau jangan-jangan, kau hanyalah sesosok wanita tua yang munafik dan kesepian?

Yuko-sensei, katakan. Bukankah kau seharusnya bertanggung jawab atas remaja-remaja yang duduk berbaris di kelasmu hari ini? Apa kau bahkan tahu bahwa—mungkin—bukan hanya aku saja yang memilikki sisi gelap, tetapi hampir setiap remaja di seluruh dunia ini juga? Beri tahu  aku sensei, sejauh mana kau mengenal kami di sini?!

Tolong, jangan membuatku tertawa.

Kau bahkan tidak menyangka bahwa Shuuya—si juara sains nasional itu—adalah orang yang menyetrum Manami di tepi kolam renang.

Kelas ini—sepeninggalmu—dipegang oleh seorang guru tolol bernama Werther. Ia tak tahu apapun soal lembaran kelam hari itu (tak seorang pun memberitahunya), tetapi ia begitu menggebu-gebu ketika mengajar. Tipe guru yang terlalu bersemangat dan gampang dipermainkan. Ia meminta kami untuk mengirim surat motivasi agar Naoki menghadiri kelas lagi. Aku hanya tertawa. Kami semua tertawa. Sebuah kutukan kematian menghiasi surat itu.

Oh ya sensei, apa kau penasaran soal nasib Naoki dan Shuuya setelah pengakuanmu hari itu?

Biar kuberitahu. Naoki tidak lagi datang ke sekolah sejak saat itu. Kami tidak pernah melihatnya lagi. Kudengar ia mengurung diri di kamar, membiarkan rambutnya tumbuh panjang dan berantakan. Membiarkan gigi-gigi hitam dan bau memenuhi mulutnya. Ia tak mengijinkan ibunya menyentuhnya. Pemuda bertubuh kecil itu menjadi gila. Ibunya menangis ketika Werther dan aku bertandang ke rumah mereka. Wanita itu bertanya, apa itu adil?

Aku hanya terdiam. Kukira kau juga bertanya demikian ketika Manami tewas.

Sementara Naoki menghilang, Shuuya masih bersikeras menghadiri kelas walau yang ia dapatkan setiap hari hanyalah kekerasan. Mereka membuang buku-buku Shuuya dari jendela lantai tiga. Mereka melemparinya dengan bola tenis. Setiap orang mati-matian menganiaya fisik dan mentalnya demi mengumpulkan poin terbanyak. Hanya aku yang tidak peduli. Hanya aku yang tak memilikki poin.

Tetapi hal itu justru menjadi alasan bagi mereka untuk menyiksaku juga. Hari itu, mereka mengikat aku dan Shuuya secara terpisah, lalu menyeret tubuh kami ke tengah kelas. Seseorang mencengkeram kepalaku dari belakang, mendorongnya ke depan dengan keras. Aku memejam. Bibirku dan Shuuya bersentuhan. Mereka bersorak sorai dan memotret kami dengan senyum mengembang.

Saat itu, untuk pertama kalinya, aku dan Shuuya berciuman. 

Kukira insiden itu tidak sepenuhnya buruk karena aku dan Shuuya mulai berbagi kisah sejak hari itu. Kami bertemu di bawah sebuah fly over, di tepi danau, dan ia mengangsurkan kertas hasil medical checknya padaku. Negatif. Ia tidak terinfeksi HIV. Sudah kubilang kan, sensei? Kau tidak punya nyali untuk membunuh orang. Ancamanmu hari itu tak lebih dari sekedar kelakar belaka.

Shuuya dan aku menghabiskan banyak waktu berdua. Ia menceritakan padaku ambisinya untuk menjadi ilmuwan elektronika terkemuka agar sang ibu yang telah pergi mau mengakuinya. Shuuya hanya seorang remaja yang kesepian. Blog Einstein Laboratory yang ia ciptakan itu tak lebih hanya untuk menarik pehatian ibunya. Kukira di dunia ini, tinggal aku saja yang mau mendengarkan kepiluan Shuuya. Dan aku telah bersumpah untuk berada di sisi Shuuya selamanya. Aku takkan mengkhianatinya.

Di dunia ini, kami hanya berdua. Hanya aku dan Shuuya. Bergandengan tangan di setiap senja. Memelihara sisi nyaman yang tersembunyi di balik gelap punggung kami. Ya, hanya aku dan Shuuya.

Tetapi sensei…

Malam itu…

Sensei…

Tolong aku…

____________________________________________________________________________________________________

A/N: This fanfiction is based on an epic Japanese movie entitled “Confessions” which was released in 2010. The storyline is quite different from other movies since it focuses more on the point of view of every character involved in a murder case, not on how it reveals the murderer. What I like the most from this movie is its attempt to depict how teenagers usually possess a dark side on their personalities. Even though some scenes just seem too much, I think the story itself is damn close to real. In addition, I really love the gloomy atmosphere and the visual graphic it offers. Five thumbs up for this movie🙂

4 thoughts on “(Fanfic) Confessions  1/2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s