Fanfiction, Uncategorized

(Drabble) Unloved

img_20151010_115309

Ketika mendengar berita kematian Tatsuya, gadis itu memilih tidak percaya. Ia tertawa dan menuduh temannya berdusta. “Kau pasti mengada-ada!”. Baginya, dunia ini adalah kebohongan, dan berita bahwa Tatsuya bunuh diri itu pastilah salah satu kebohongan juga.

Tatsuya…

Tetapi temannya tidak ikut tertawa, pun tautan alisnya tak jua mengendur. “Aku serius”, ucap temannya penuh penekanan. Gadis itu kembali mencari sisa-sisa petunjuk bahwa temannya berbohong, tetapi segala yang tersirat di sana hanya kejujuran. Lalu seketika gadis itu tersadar: Tatsuya benar-benar sudah pergi.

Ia terdiam sangat lama, membeku, seperti embun di musim dingin. Telinganya berdengung kencang hingga ia tak bisa mendengar apapun. Terakhir kali ia bertemu Tatsuya adalah di pertengahan musim semi dua bulan yang lalu. Hari yang terlalu indah untuk putus cinta sesungguhnya, tetapi tak ada yang bisa ia perbuat ketika pemuda berambut cokelat terang dan bertato ular itu memilih meninggalkannya. Ia tak pernah cukup baik untuk Tatsuya.

“Tapi kenapa?”, gadis itu mendapati suaranya begitu berat dan lirih layaknya radio tua yang dipaksa berbunyi. Baginya, sangat sulit untuk membayangkan alasan mengapa Tatsuya—si pemuda urakan yang selalu semaunya sendiri itu—harus memilih mati. Tatsuya bukan tipe orang yang berdiam diri di pojok ruangan dan berkutat dengan pemikirannya sendiri. Ia tipe yang gemar mengumpat ketika marah, meninju pipi orang hingga tangannya sendiri berdarah. Ia suka memacu motornya dengan kecepatan ekstrim dan menenggak alkohol hingga matahari terbit. Di dalam rokoknya bukan tembakau, dan di dalam dirinya bukan air yang tenang. Bunuh diri adalah hal terakhir yang bisa gadis itu pikirkan tentang Tatsuya.

“Kau yakin itu bukan kecelakaan? Atau pembunuhan? Atau overdosis?”. Baginya, alasan-alasan itu jauh lebih masuk akal ketimbang bunuh diri.

Temannya menggeleng. “Ia sendirian dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Di pergelangan tangan kirinya ada sayatan sepanjang tujuh centi. Sayatan itu sangat dalam”.

“Tapi kenapa?”, gadis itu mengulangi pertanyaan yang sama.

“Mana kutahu. Kenapa kau justru bertanya padaku? Kau kan mantan pacarnya. Kau seharusnya lebih tahu tentang Tatsuya. Apa kau tidak mengamati dia ada masalah atau tidak selama kalian pacaran?”.

Bibir gadis itu terkatup. Kedua manik matanya bergerak-gerak tidak fokus, mencari -cari sesuatu di antara timbunan memorinya. Mencari-cari hingga lelah, namun tidak juga menemukan. Tatsuya baik-baik saja. Ya, Tatsuya selalu baik-baik saja.

“Kurasa tidak”, gadis itu menjawab.

Temannya terhenyak. Matanya terpaku pada wajah gadis itu: ia melihat ujung bibir gadis itu tersungging ke atas. “Rin…”, temannya menggumam.

Gadis itu mengerjap dengan pupilnya yang membesar. “Ya?”.

“Kenapa kau tidak menangis?”.

Gadis itu tercenung. Ia mengerjap sekali lagi dan menyadari bahwa matanya tak pernah basah.

____***____

A/n: Terinspirasi dari banyak hal, di antaranya rumor Sulli bunuh diri, karakter Haruyama di Hot Road yang bikin galau, plus keinget salah satu film indie Jepang yang rada-rada suram. Anyway, I’m happy to write again. The weather is lovely here 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s