Uncategorized

(Fanfic) Confessions 2/2

Confession_(2010-Japan) 2

|Confessions: Kitahara Mizuki|

Confessions: Watanabe Shuuya

Negatif.

Garis sederhana itu berhasil mengoyak harapanku untuk bertemu okaasan. Tentu saja, tentu saja!! Mengapa aku tidak menyadarinya sejak awal?? Wanita jalang itu tak akan pernah berani menyuntikkan darah HIV dalam box susu murid-muridnya.

Brengsek!!

Aku merobek kertas hasil medical check up itu dan membakarnya. Mizuki berdiri di sisi api unggun yang kami buat dan berkata “Kau yakin akan membakarnya?”. Aku mengabaikannya.

Setelah ceramah konyol Yuko tentang kehidupan di akhir musim semi lalu, anak-anak dungu di kelas ini mulai menggila. Mereka menghamburkan isi tasku dari lantai tiga, menyesaki lokerku dengan debu dan sampah. Mereka bersorak ketika bola basket yang dilempar Yoshino beradu dengan kepalaku. Suatu kali, mereka bahkan melakban mataku, dan memaksa mulutku beradu cium dengan Mizuki.

Jadi kuberi mereka sedikit pelajaran berharga: setetes darah dan ciuman di kelas siang itu.

“Jika kalian tidak berhenti, aku akan memberikan bibir ini pada kalian satu per satu!”.

Seruanku membuat anak-anak itu menjerit histeris dan berlari tunggang langgang. Mereka pikir, virus HIV telah menyesaki udara ruang kelas. Mereka pikir pembunuh ini akan membunuh mereka juga. Hahaha. Tidak–maksudku, tidak sekarang. Giliran mereka akan datang setelah aku menghabisi satu parasit yang mengekorku: Kitahara Mizuki.

Kitahara Mizuki selalu berpikir aku menyukainya. Ia mendekatiku, ia mendengarkanku. Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Suatu kali, ia membiarkanku mengintip ke dalam rahasianya–bahwa ia adalah sosok di balik huruf L itu. Huruf L yang beberapa waktu lalu menebar teror di Jepang. Huruf L yang menghabisi empat nyawa terdekatnya dengan bahan-bahan Kimia.

Huruf L….yang merenggut kesempatanku untuk bertemu okaasan.

Kebencian mulai merayapi hatiku dengan cepat. Malam itu, kami bertengkar hebat setelah ia menuduhku mengidap Oedipus Complex. Mulut kotornya itu bahkan menyamakan aku dengan si kerdil berengsek Naoki. Jadi kupukul kepalanya, lalu kudinginkan potongan-potongan tubuhnya di dalam kulkas. Mizuki terdiam di sana. Tato L di urat nadinya membeku bersama darahnya. 

Sensei, aku baru saja menghabisi seorang gadis seumuranku.

Dan aku ingin menghabisi teman-temanku juga. Mereka, yang tidak memahami bagaimana rasanya terbuang. 

Malam itu, kusembunyikan sebuah hadiah untuk mereka: sebongkah rangkaian kabel yang tersemat di bawah podium. Kubayangkan tubuh mereka berserakan. Darah dimana-mana. Semua itu bagaikan surga. Aku hanya perlu menekan detonator  hingga mereka tergeletak tak berdaya.

Ya. Seperti itu.

Tapi sensei, mengapa kau diam-diam memindahkan peledak itu ke ruangan okaasan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s