Fanfiction, Uncategorized

(Fanfic) The Dancer

ballet-blackandwhite-dance-goals-favim-com-4889092

Untuk kesekian kalinya, iris kami kembali bertaut. Aku bisa melihat kegelapan yang membalut matanya. Kegelapan yang panjang dan menyesakkan bak lorong tua yang tak seharusnya kutelusuri. Tapi aku tak bisa mengalihkan mataku barang semili. Ketika iris kami bertaut seperti ini, duniaku seolah terhenti.

“Kau tahu Krys, mereka terus membicarakanmu tanpa henti, dan aku muak mendengar semua itu”.
             Aku memejamkan mata, melewatkan begitu saja ucapan Brant. The Poem of Ecstasy masih membelai telingaku seperti semilir angin di penghujung musim gugur yang lembut dan dingin. Sulit bagiku menginterpretasikan segala yang berkutat di kepala Scriabin tatkala ia menggubah musik ini. Apa ia tengah jatuh cinta? Depresi? Gelisah? Kevin berkata bahwa jika kau ingin menari dengan indah, kau harus memahami makna yang tersirat dalam musiknya. Memahami perasaan penggubahnya, dan menyerapnya seolah-olah kau adalah si penggubah itu sendiri. Sayangnya, semua itu tidaklah segampang yang ia katakan. Terlebih ketika pemuda dengan tato ular di leher ini—Brantley Henner—terus-terusan mengekorku selama latihan.

“Krys..”.

Aku mendesah dan berbalik, menatap Brant yang bersila di tengah gelanggang dengan sekaleng Irn-Bru di tangannya.   “Memangnya apa yang mesti kulakukan, Brant?”.

“Setidaknya beri tahu mereka bahwa kau tidak pernah melakukannya”, Brant bangkit dan menggaet tanganku dengan kasar. Beberapa hari ini, sebuah rumor beredar di sekolah kami: rumor bahwa Krystal Hopkins telah tidur dengan Kevin Young—si pelatih balet yang berdarah separuh Asia itu—hanya agar ia bisa mendapatkan peran utama dalam pertunjukan balet di Scottish Dance Festival tahun ini. Rumor bahwa Krystal Hopkins telah menghabiskan beberapa malam di apartemen Kevin seminggu sebelum pemilihan ballerina utama.

“Bahkan jika aku memberitahu mereka dengan mikrofon dan menyiarkan ucapanku ke seantero St. Peterson, mereka tidak akan peduli. Mereka akan lebih percaya rumor itu. Jadi kupikir, tidak ada gunanya aku melakukan semua itu”.

“Tapi kau tidak bisa bersikap tak acuh seperti ini juga, Krys. Kau tahu itu akan merusak reputasimu, dan…dan…sekolah bisa saja mencopotmu dari duta Seni”.

Kalimat terakhir Brant sontak membuatku gusar. Dicopot dari duta Seni adalah mimpi terburuk dalam sejarah hidupku hingga aku bahkan tak mau memikirkannya. “Tolong Brant, berhentilah menakuti-nakutiku. Selama itu hanya kabar burung, tidak akan ada masalah besar kurasa”. Aku tak tahu siapa yang mulai menyebarkan berita ini. Sungguh, jika aku bertemu dengan anak itu, aku pasti akan mencekiknya hingga mati.

“Tidak, tidak. Kau tidak berpikir Mr. Henderson akan begitu saja mengabaikan rumor itu dan berada di pihakmu, kan? Jangan naif, Krys. Kau harus memberi penjelasan. Kau harus membuktikan bahwa tak ada apapun antara kau dan Kevin”.

Aku tersenyum simpul mengamati kekhawatiran yang mengusik wajah tampan Brant. Sungguh, aku tahu yang ia khawatirkan bukanlah reputasiku, melainkan kemungkinan bahwa aku telah tidur dengan Kevin. Ia takut aku mengkhianatinya. Ia takut aku mengakhiri hubungan kami yang belum juga menginjak satu tahun ini.

“Siapa yang lebih kau percaya Brant? Aku atau anak-anak itu?”.

“Bukan itu masalahnya…”.

“Ya, itulah masalahnya. Kau takut bahwa rumor itu benar bukan? Aku bisa membacanya dari matamu”.

Brant lantas mendesah keras dan memelukku. “Tentu saja. Tentu saja itu masalahnya. Kau tahu aku sangat mencintaimu, Ms. Hopkins”.

“Kau tahu bahwa rumor itu salah kan? Kau percaya padaku kan?”.

“Ya”.

“Kalau begitu masalahnya selesai. Bagiku, selama kau masih percaya padaku, semua akan baik-baik saja. Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan—bagiku mereka tidaklah terlalu penting”. Aku balas memeluknya erat. Cahaya neon berpendar di atas kami, menerangi gelanggang balet Manor yang telah sepi. Cermin-cermin raksasa melapisi seluruh penjuru ruangan.

Lalu Brant duduk di tepian gelanggang, sementara aku meraih audiotape dan memutar ulang The Poem of Ecstasy. Dengan masih berbalut tutu putih, aku berdiri di hadapan cermin dan menatap refleksiku. Untuk kesekian kalinya, iris kami kembali bertaut. Aku bisa melihat kegelapan yang membalut matanya. Kegelapan yang panjang dan menyesakkan bak lorong tua yang tak seharusnya kutelusuri. Di sana, aku bisa melihat dusta-dusta yang kusembunyikan dari semua orang, segala ego buta dan pengorbanan konyol untuk meraih ambisiku. Lalu tatapanku bergeser ke refleksi Brant di belakang sana.

Bagaimana jika aku memberitahunya bahwa rumor itu benar?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s